ABNnews – Aksi pengerjaan proyek berisiko tinggi (high risk) baru saja sukses dieksekusi oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Anak usaha PLN ini berhasil merampungkan penyambungan pipa gas bumi bawah laut untuk ruas West Natuna Transportation System (WNTS)-Pemping secara aman tanpa menghentikan aliran gas utama yang tengah beroperasi.
Proses penyambungan ini terbilang ekstrem karena menggunakan teknik hot tap, yaitu menyambung pipa baru ke jaringan pipa utama yang posisinya sedang menyalurkan gas dengan laju alir sekitar 300 juta kaki per hari.
Terlebih, pengerjaan ini dilakukan di kedalaman laut 29 meter dengan tekanan gas yang sangat tinggi mencapai 1.096 psi, namun berhasil diselesaikan tanpa memicu kebocoran sedikit pun.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengungkapkan, keberhasilan penyambungan ini merupakan tahapan paling krusial dalam membangun infrastruktur yang akan menghubungkan pasokan gas raksasa dari Natuna ke Pulau Pemping, sebelum nantinya didistribusikan ke kawasan Tanjung Uncang untuk menyuplai kebutuhan industri dan masyarakat Kota Batam, Kepulauan Riau.
“Untuk pertama kalinya, gas bumi Natuna yang selama ini seluruhnya dimanfaatkan untuk pasar ekspor akan mulai dialirkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, khususnya mendukung sistem kelistrikan di Sumatera dan Batam,” ujar Rakhmad dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Capaian ini menjadi tonggak sejarah yang sangat dinantikan setelah bertahun-tahun lamanya gas Natuna hanya dinikmati oleh pasar luar negeri. Optimalisasi sumber daya energi domestik ini juga sekaligus menjadi langkah nyata dalam menyokong program Astacita Presiden demi memperkuat ketahanan energi nasional.
Rakhmad menambahkan, keberhasilan memotong dan menyambung pipa bertekanan tinggi ini menunjukkan kesiapan teknis proyek serta sinergi yang kuat antarpemangku kepentingan. Langkah ini sekaligus membuktikan kemampuan PLN EPI dalam menjalankan mandat dari Menteri ESDM.
“Proyek selanjutnya akan memasuki tahap komisioning (commissioning) dan pengaliran gas tahap awal dengan volume sekitar 25 juta kaki kubik per hari untuk mendukung kebutuhan sistem kelistrikan Batam,” jelas Rakhmad.
Senada dengan hal tersebut, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menargetkan tahapan uji coba pengaliran gas tersebut sudah bisa dilaksanakan pada pekan depan.
“Paralel saat ini, tim SKK Migas sedang menyiapkan gas untuk komisioningnya agar gas dari Natuna untuk pertama kalinya dapat mengalir ke Republik Indonesia, yang sudah ditunggu-tunggu sejak bertahun-tahun lamanya,” kata Djoko.
Kehadiran pasokan gas ini dipastikan akan memperkuat pasokan energi primer bagi pembangkit-pembangkit strategis PLN di Sumatera dan Batam. Di antaranya adalah PLTGU Tanjung Uncang berkapasitas 135,29 MW dan PLTGU IPP Tanjung Uncang milik PT Energi Listrik Batam (ELB) berkapasitas 109,4 MW.
Demi mengamankan pasokan jangka panjang, PLN EPI bahkan telah menandatangani perjanjian jual beli gas dengan West Natuna Exploration Limited (WNEL) untuk memasok hingga 111 juta kaki kubik gas per hari selama periode tahun 2027-2037.
Pemanfaatan gas bumi ini diklaim jauh lebih efisien, bersumber dari dalam negeri, dan jauh lebih bersih untuk menekan emisi karbon ketimbang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Terbangunnya pipa WNTS-Pemping ini menjadi fondasi krusial dalam mendukung pertumbuhan kawasan industri, manufaktur, hingga ekonomi digital di Batam yang membutuhkan pasokan energi stabil dan berkelanjutan.
“Proyek WNTS-Pemping melibatkan lebih dari 700 tenaga kerja mulai dari proses fabrikasi hingga pekerjaan offshore, nearshore, dan onshore. Dengan selesainya tahapan hot tap, proyek kini memasuki fase akhir sebelum gas Natuna resmi mengalir,” pungkas Rakhmad.












