ABNnews – Tindakan yang sangat tidak terpuji dan memalukan diperlihatkan oleh dua oknum lurah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kedua pejabat publik tersebut nyaris menjadi bulan-bulanan warga setelah tepergok basah sedang menggelar pesta minuman keras (miras) dan memesan wanita panggilan (open BO) di dalam Kantor Kelurahan Poasia pada Jumat (12/6/2026) malam.
Kedua oknum pejabat yang bikin elus dada tersebut diketahui bernama Zakir Muhammadong (Lurah Poasia) dan Rachmat Aboe Kasim (Lurah Talia).
Aparat kepolisian yang menerima laporan darurat langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian demi mengevakuasi kedua lurah dari kepungan massa yang telanjur naik pitam.
Sengkarut memalukan di fasilitas negara ini bermula saat Lurah Poasia, Zakir Muhammadong, meminta seorang pria untuk mencarikan dua wanita yang bisa menemani mereka menenggak miras sekaligus melayani nafsu bejad mereka.
Tak berselang lama, dua wanita berinisial CIS (21) dan ANI (18) akhirnya tiba di kantor kelurahan setelah dipesan melalui aplikasi hijau, MiChat.
Namun, alih-alih mendapatkan hiburan, situasi di dalam Kantor Kelurahan Poasia justru mendadak memanas. Kedua wanita panggilan tersebut terlibat adu mulut dan pertengkaran hebat dengan sang lurah.
Pemicunya berbau fulus. Kedua wanita itu bersikeras meminta uang bayaran di muka (down payment) sebesar Rp 700 ribu per orang atau total Rp 1,4 juta sebelum memberikan pelayanan.
Permintaan tarif tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh Lurah Poasia. Entah karena tidak punya uang atau sekadar pelit, sang lurah saat itu hanya menyodorkan uang receh sebesar Rp 200 ribu kepada kedua wanita tersebut.
Lantaran merasa ditipu, adu mulut antar mereka pun pecah menjadi makin sengit dan berisik. Suara teriakan yang menggema dari dalam kantor kelurahan pada larut malam itu akhirnya memancing kecurigaan dan perhatian warga sekitar yang sedang melintas.
Mendengar ada keributan janggal di dalam fasilitas negara saat jam kantor sudah tutup, warga yang penasaran sekaligus kesal langsung berbondong-bondong mendatangi dan mengepung Kantor Kelurahan Poasia.
Emosi massa yang mengepung kantor tersebut langsung meledak dan berada di ubun-ubun setelah mengetahui bahwa kantor pemerintah yang dibiayai uang rakyat itu justru disalahgunakan menjadi tempat pesta miras dan lokalisasi terselubung.
Massa yang mengamuk langsung merangsek maju dan nyaris menghakimi kedua pejabat tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan adanya insiden penggerebekan memalukan oleh warga tersebut.
Pihaknya mengaku langsung menerjunkan personel bersenjata ke lapangan guna meredam situasi panas dan mengamankan para pelaku agar tidak mati konyol di tangan massa yang emosi.
“Kami bergerak cepat meredam situasi di lapangan agar tidak terjadi aksi main hakim sendiri oleh massa,” tegas Welliwanto dikutip inews, Minggu (14/6/2026)..
Kini kedua lurah beserta wanita pesanan mereka harus pasrah diangkut ke mapolres untuk menjalani pemeriksaan intensif.













