banner 728x250

Cerita Kapolri Jenderal Sigit Kerap Di-WA Pejabat yang Minta Anaknya Diloloskan Akpol

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (Foto: JawaPost)

ABNnews – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membagikan cerita mengejutkan tentang dirinya yang masih sering diberondong pesan singkat via WhatsApp (WA) dari para pejabat negara.

Isinya, tidak lain dan tidak bukan adalah meminta bantuan jenderal bintang empat tersebut agar anak-anak mereka bisa diloloskan dalam proses seleksi Akademi Kepolisian (Akpol).

Meski kerap menerima pesan titipan, Jenderal Sigit menegaskan Korps Bhayangkara saat ini memegang komitmen mati-matian untuk menjalankan sistem rekrutmen secara bersih dan transparan.

Alhasil, ia memastikan tidak ada lagi ‘jalur sakti’ atau kuota khusus bagi anak pejabat maupun tokoh berpengaruh tertentu di tanah air.

Saking gerahnya dengan fenomena titip-menitip ini, Jenderal Sigit bahkan mengaku kerap menegur keras Asisten SDM Kapolri, Irjen Anwar, karena menganggap sosialisasi sistem baru ini masih belum dipahami sepenuhnya oleh para kolega.

“Pak Anwar ini selalu saya marahi, ‘kok selalu masih ada yang WA saya minta supaya anaknya bisa diloloskan di tahap berikutnya sementara Pak Anwar sudah mengumumkan’,” ujar Sigit saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Kompolnas di Jakarta Utara, Rabu (10/6/2026).

Menurut Sigit, sistem rekrutmen saat ini sudah dikunci rapat secara prosedural. Begitu hasil seleksi resmi diumumkan ke publik, maka tidak ada satu pun pihak termasuk dirinya sendiri yang bisa mengubah hasil tersebut.

Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang berharap mendapat keistimewaan untuk meloloskan putra-putrinya ke Akpol.

“Saya mohon maaf kepada rekan-rekan di sini, mohon maaf barangkali ada yang putra-putranya masuk Akpol, kami tidak bisa berbuat banyak untuk membantu karena memang sudah menjadi komitmen kita saat itu untuk tidak ada lagi kuota khusus dari Kapolri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jenderal Sigit membongkar bahwa gerilya permintaan ‘titipan’ tersebut nyatanya tidak hanya datang dari kalangan pejabat aktif yang tengah berkuasa saat ini.

Ia menyebut, sejumlah mantan pimpinan Polri terdahulu pun ikut mengirimkan pesan serupa agar keluarganya diloloskan. Namun, jenderal nomor satu di kepolisian itu tetap bergeming.

“Saya lihat banyak sekali putra ataupun titipan dari pejabat-pejabat termasuk mantan-mantan pimpinan Polri, kali ini kami tidak bisa membantu,” cetusnya lugas.

Sikap kaku dan tanpa kompromi ini, jelas Sigit, merupakan bagian dari cetak biru (blueprint) pembenahan total di tubuh institusi Polri, sekaligus menjaga marwah reformasi birokrasi yang sedang digalakkan.

Ia menilai, meloloskan satu orang titipan demi relasi kekuasaan justru berpotensi merusak sistem dan menimbulkan ketidakadilan yang lebih besar.

“Risikonya ya kita lebih baik dimarahi. Tapi mudah-mudahan ini yang kita lakukan bukan karena kita tidak ingin bantu, tapi ini bagian dari upaya kita untuk ingin menunjukkan bahwa institusi Polri saat ini sedang berbenah untuk menjadi lebih baik,” papar Sigit.

Di akhir arahannya, Kapolri turut memberikan kredit khusus dan mengapresiasi peran aktif Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang terus mengawal berbagai proses internal di lingkungan Polri, termasuk mengawasi jalannya rekrutmen anggota baru dan seleksi taruna Akpol.

Menurut Sigit, keterlibatan aktif lembaga pengawas eksternal seperti Kompolnas sangat krusial dalam memastikan seluruh proses di lapangan berjalan transparan serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum ke publik.

“Sekali lagi terima kasih, dan banyak hal yang telah dilaksanakan Kompolnas, mulai dari bagaimana mengklarifikasi terhadap saran dan keluhan masyarakat yang masuk untuk bisa diteruskan baik kepada Presiden dan juga kepada Polri melalui Irwasum selama ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *