ABNnews – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) membeberkan data menarik mengenai dominasi anak muda dalam pengembangan ekosistem bioenergi nasional.
Pihak perusahaan mencatat, dari total 180 kontrak aktif pengadaan biomassa yang tengah berjalan, sekitar 60 persen pelakunya berasal dari kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z).
Mereka bergerak lincah mulai dari memproduksi pelet, mengumpulkan cangkang, hingga menembus pasar ekspor.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa keterlibatan para pelaku usaha muda ini tumbuh subur seiring dengan masifnya program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Informasi ini disampaikannya langsung dalam acara Seminar Series Dies Natalis ke-28 Institut Teknologi PLN (ITPLN).
“Dari 180 perusahaan itu, 60 persennya milenial dan Gen Z. Mereka bikin pelet, kumpulin cangkang, bahkan ada yang ekspor,” ujar Hokkop dalam keterangannya, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Hokkop memaparkan, selama tiga tahun terakhir PLN EPI telah menggelontorkan pengadaan biomassa hingga menyentuh angka 2,5 juta ton melalui 180 kontrak aktif tersebut.
Menurutnya, volume itu setara dengan pasokan satu kontrak batu bara skala besar, namun memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang jauh lebih luas bagi ekonomi rakyat.
“Kalau batu bara, 2,5 juta ton itu biasanya cukup satu kontrak saja. Tapi biomassa ini melibatkan 180 perusahaan. Artinya ekonomi rakyat bergerak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hokkop mengumpamakan model bisnis biomassa saat ini berkembang menyerupai ekosistem startup. PLN EPI membangun konsep rantai pasok berbasis main hub dan subhub guna mengintegrasikan proses pengumpulan limbah, pengolahan, pengeringan, hingga pengujian kualitas sebelum dikirim ke pembangkit listrik.
Tak hanya itu, PLN EPI juga mulai menelurkan inovasi digital lewat platform marketplace biomassa di Adipala, Cilacap. Melalui aplikasi ponsel tersebut, masyarakat nantinya bisa menjual limbah kayu atau biomassa secara instan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
“Nanti tinggal foto kayunya, sistem akan estimasi jenis, kadar kalori, jarak, sampai harga dengan AI. Setelah itu bisa langsung dijual dan diambil,” kata Hokkop.
Hokkop menambahkan, pengembangan bioenergi ini tidak hanya efektif mereduksi emisi karbon, tetapi juga menjadi ladang pembuka lapangan kerja baru di daerah.
PLN EPI bahkan membuka peluang lebar bagi para talenta digital untuk ikut mengembangkan sistem digitalisasi rantai pasok ini.
Saat ini, PLN EPI telah membangun dua fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan bersiap melebarkan sayap ke Kijing, Dumai, Lebak, Lamongan, hingga Belawan.
Dalam empat tahun ke depan, perusahaan menargetkan pembangunan 22 fasilitas produksi biomassa di berbagai wilayah Indonesia.
PLN EPI memperkirakan nilai ekonomi dari sektor biomassa ini akan terus meroket tajam. Jika implementasi cofiring berhasil mencapai target 10 juta ton atau sekitar 10 persen dari kebutuhan pembangkit nasional, nilai ekonominya diproyeksikan mampu menembus Rp 11 triliun.
“Baru 2,5 juta ton saja nilainya sudah hampir Rp 3 triliun. Kalau 10 juta ton, potensi ekonominya Rp 11 triliun,” sebut Hokkop.
Selain menggerakkan ekonomi bawah, program ini diproyeksikan menyumbang penerimaan negara melalui sektor pajak hingga Rp 1,25 triliun.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor III ITPLN, Purnomo, mengingatkan bahwa sektor energi nasional masih dihadapkan pada tantangan besar berupa trilema energi, yakni keamanan pasokan, pemerataan akses, dan keberlanjutan lingkungan.
Purnomo menyebut rasio elektrifikasi di Indonesia memang sudah sangat tinggi, namun tantangan untuk mencapai angka 100 persen masih membayangi akibat faktor geografis sebaran penduduk.
“Rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai sekitar 99%, namun masih ada tantangan untuk mencapai 100% masyarakat bisa menikmati listrik, karena sebaran masyarakat sehingga membutuhkan investasi yang sangat tinggi,” urai Purnomo.
Di samping itu, Purnomo menegaskan bahwa pemerintah juga berkewajiban memenuhi komitmen pengurangan emisi karbon global sesuai Paris Agreement dan target net zero emission pada tahun 2060 yang telah diratifikasi oleh Indonesia.













