banner 728x250

Jurus Jitu SMIT Insan Mandiri Usir Stres Remaja Zaman Now Lewat Live In

Foto dok SMIT Insan Mandiri

ABNnews – Persoalan kesehatan mental remaja akibat gempuran tekanan digital, kecanduan gadget, hingga krisis interaksi sosial yang kian akut kini tengah menjadi sorotan tajam.

Menjawab tantangan tersebut, SMIT Insan Mandiri menggebrak dengan menghadirkan pendekatan antimainstream lewat program Live In 2026 yang berlokasi di Desa Sukasirna, Kampung Jati Nunggal.

Mengusung tema “Mandiri Bergerak Bersama Berdampak”, program ini dirancang bukan sekadar pembelajaran di luar kelas biasa. Kegiatan ini menjadi ajang pembentukan karakter mandiri dan mengasah kepedulian sosial siswa melalui kehidupan nyata bersama warga desa.

Selama program bergulir, para siswa diwajibkan angkat kaki dari zona nyaman mereka, menetap di rumah-rumah warga, dan membaur dengan ritme kehidupan pedesaan.

Mereka ditempa untuk hidup sederhana, beradaptasi dengan lingkungan baru, mengikis kecanggangan komunikasi, hingga terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat.

Penanggung jawab kegiatan, Ustaz Manarul Iksan, menegaskan pengalaman riil seperti ini sangat krusial bagi remaja di tengah gempuran dunia digital yang kerap membuat generasi muda kuper alias kurang pergaulan di dunia nyata.

“Anak-anak sekarang hidup sangat dekat dengan gadget. Banyak yang terbiasa menyendiri, kurang berinteraksi, bahkan kesulitan membangun kedekatan sosial. Karena itu mereka perlu ruang untuk belajar hidup bersama masyarakat secara langsung,” beber Ustaz Iksan, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Iksan, kegiatan live in menjadi salah satu obat penawar paling mujarab untuk melatih ketahanan mental (mental toughness) remaja.

Melalui skenario kehidupan nyata, para siswa dipaksa mandiri, bertanggung jawab, dan berani menghadapi tantangan baru di luar rutinitas harian mereka.

Selama tinggal bersama penduduk lokal, para siswa mulai terbiasa mendisiplinkan diri sendiri. Mulai dari wajib bangun sebelum subuh, menyatu dengan agenda harian warga, hingga menuntaskan berbagai tugas domestik tanpa mengandalkan bantuan guru maupun fasilitas mewah yang biasa mereka nikmati di rumah.

“Hal-hal sederhana seperti belajar disiplin, berbicara sopan kepada warga, membantu masyarakat, dan hidup bersama orang lain ternyata sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kematangan emosional mereka,” urai Iksan.

Tak cuma numpang tinggal, para siswa juga tancap gas menggeber berbagai program sosial kemasyarakatan. Mulai dari menggelar penyuluhan composting, edukasi budidaya maggot, hingga program fun learning bersama anak-anak desa. Interaksi intens ini dinilai sukses memicu rasa empati sekaligus meroketkan kepercayaan diri para siswa.

Di tengah meroketnya grafik kasus stres, kecemasan, hingga krisis identitas yang melanda kaum remaja saat ini, program berbasis interaksi sosial dan pengabdian dinilai menjadi alternatif pendidikan karakter yang sangat relevan dan mendesak.

“Ketika anak-anak merasa dibutuhkan, bisa membantu orang lain, dan memiliki hubungan sosial yang sehat, itu sangat baik untuk kesehatan mental mereka,” cetus Ustaz Iksan.

Pihaknya berharap program edukasi berbasis komunal seperti live in ini terus dikembangkan luas oleh institusi pendidikan. Tujuannya jelas, agar siswa tidak hanya jago kandang mengejar nilai akademik di atas kertas, tetapi juga memiliki mental baja, empati sosial yang tinggi, serta kelenturan beradaptasi di tengah masyarakat luas.

“Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Anak-anak juga perlu dibangun mentalnya, emosinya, dan rasa tanggung jawab sosialnya,” pungkas Iksan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *