ABNnews — Usai membongkar laboratorium rahasia (clandestine lab) di Gianyar, Bali, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Suyudi Ario Seto, membeberkan jenis narkoba campuran (mixed) yang menjadi favorit turis serta warga negara (WN) Rusia di Pulau Dewata.
Fakta tersebut diungkapkan Komjen Suyudi saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Lido, Bogor, Kamis (23/7/2026). Dalam penggerebekan di Gianyar tersebut, BNN mengamankan barang bukti dalam jumlah fantastis yang melibatkan jaringan WN Rusia.
“Penggerebekan clandestine lab di Gianyar, Bali, yang melibatkan warga negara Rusia dan berhasil menyita narkotika golongan satu mefedron pada total berat bruto 7,8 kilogram atau 7.894 gram, prekursor padat 2,6 kilogram atau 2.600 miligram, dan cairan 219,7 kilogram atau 219.785 miligram,” kata Suyudi dalam sambutannya.
Komjen Suyudi menjelaskan bahwa barang haram jenis mefedron yang diproduksi di Gianyar tersebut merupakan narkotika jenis baru. Zat sintetis ini merupakan hasil kombinasi antara kokain dan MDMA (ekstasi) yang sangat digemari oleh turis maupun warga Rusia.
“Kasus ini menunjukkan semakin kompleksnya ancaman narkotika sintetis di dalam negeri. Jadi mefedron ini adalah termasuk narkotika baru. Ini adalah mix antara kokain dan MDMA atau ekstasi. Sangat disukai oleh orang-orang Rusia,” terang Suyudi.
Menurut Suyudi, jaringan ini beroperasi secara sangat tertutup di Bali. Mulai dari proses produksi di laboratorium rahasia, pengedaran, hingga konsumen utamanya seluruhnya melibatkan sesama warga negara Rusia.
Guna membongkar jaringan ini hingga ke akarnya, BNN terus berkoordinasi erat dengan pihak Kedutaan Besar Rusia serta Atase Kepolisian Rusia untuk melacak indikasi jaringan internasional yang dikendalikan dari Rusia.
“Sehingga pembuatnya, pengedarnya adalah orang Rusia, pasarnya juga orang Rusia. Dan kita terus bekerja sama dengan Kedutaan Rusia, Atase Kepolisian Rusia, kami terus untuk bisa menggali dan mengungkap jaringan internasional yang sedang kita curigai ada di Rusia,” pungkasnya.












