banner 728x250

Bukan Cuma Wacana! RI-Malaysia-Filipina Sepakat Bangun Proyek Energi ‘Gila’ di Borneo

Foto: BPMI

ABNnews – Presiden RI Prabowo Subianto membawa misi besar dalam kunjungan kerjanya ke Filipina. Di tengah tantangan perubahan iklim global, Prabowo menegaskan bahwa kawasan ASEAN, khususnya subkawasan BIMP-EAGA, harus segera “move on” ke energi bersih sebagai bahan bakar utama pertumbuhan ekonomi masa depan.

Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Kamis (7/5/2026), Prabowo blak-blakan soal potensi raksasa yang dimiliki wilayah tropis ini. Mulai dari aliran sungai yang deras di Kalimantan hingga teriknya matahari yang bisa jadi duit.

Presiden Prabowo menekankan bahwa kekayaan alam subkawasan BIMP-EAGA adalah modal utama untuk lepas dari ketergantungan energi fosil. Namun, ia melempar tantangan kepada para pemimpin negara tetangga untuk tidak hanya sekadar mengumbar wacana.

“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” tegas Prabowo di Cebu.

Ia mendorong langkah konkret seperti pengembangan tenaga air (hydropower) raksasa di Borneo (Kalimantan), perluasan proyek energi surya di Palawan, hingga pemanfaatan kincir angin di wilayah pesisir.

Tak hanya menyuruh, Indonesia sendiri diklaim sedang melaju dalam kecepatan penuh. Prabowo memamerkan target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas fantastis, yakni 100 GW.

“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita,” ujarnya penuh optimisme di hadapan para pemimpin ASEAN.

Usai mendampingi Presiden, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa KTT ini telah mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035. Visi ini menjadi kompas bagi Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina untuk menjadi kawasan yang lebih tangguh dan kompetitif.

Salah satu fokus utamanya adalah sektor Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC). Kabar baiknya, Indonesia memegang tongkat kepemimpinan klaster ini hingga 2025 sebelum diserahkan ke Malaysia.

“Hasilnya meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik hingga elektrifikasi pedesaan. Program ini akan memperkuat kolaborasi agar masyarakat di daerah terpencil (remote area) mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau,” jelas Bahlil.

Bahlil menambahkan, Kementerian ESDM sudah punya peta jalan untuk menjalankan titah Presiden. Strateginya mulai dari pemanfaatan hidrogen, amonia, hingga energi nuklir. Selain itu, pemerintah tetap konsisten melakukan moratorium PLTU baru serta mendorong penggunaan kendaraan listrik (EV).

“Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *