ABNnews — PT Wijaya Karya Beton Tbk (kode emiten: WTON) menjadi pusat perhatian di lantai bursa dengen mencatatkan lonjakan volume transaksi yang signifikan pada perdagangan awal Mei, memicu spekulasi pasar tepat beberapa hari menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 13 Mei 2026 mendatang.
WTON, yang dikenal sebagai raksasa beton pracetak di Asia Tenggara sejak 1997, kembali masuk dalam radar investor sebagai proxy utama untuk mengukur arah belanja infrastruktur nasional.
Meski situasi industri konstruksi masih penuh tantangan, posisi strategis Perusahaan tetap menjadi daya tarik bagi pelaku pasar yang mulai menakar peluang pemulihan sektor ini di sepanjang tahun 2026.
Data perdagangan pada 4 Mei mencatatkan aktivitas pasar yang tidak biasa. Volume transaksi meledak hingga 143,77 juta saham, melonjak tajam dibanding rata-rata harian sebelumnya. Harga saham sempat bergerak agresif ke level Rp99 sebelum akhirnya mendarat di posisi Rp89.
Fenomena ini sering kali dibaca investor sebagai sinyal bahwa WTON kembali masuk dalam radar pantauan kolektif para pemain besar di bursa. Merespons dinamika tersebut, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat meminta penjelasan resmi kepada manajemen.
Namun dalam keterbukaan informasi, WIKA Beton menegaskan bahwa tidak ada informasi atau fakta material yang dirahasiakan yang dapat memengaruhi nilai efek perusahaan. Perusahaan juga menyatakan tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu dan tidak memiliki rencana aksi korporasi tertentu selain fokus pada persiapan RUPST Tahun Buku 2025.
Dari sisi fundamental, kinerja Kuartal I-2026 memang masih mencatatkan rapor yang menantang dengan pendapatan Rp677 miliar dan laba bersih Rp1,5 miliar.
Namun, dengan struktur keuangan yang masih memiliki total aset sebesar Rp6,291 triliun serta ekuitas mencapai Rp3,686 triliun, perusahaan dinilai masih memiliki ruang napas yang cukup untuk bermanuver lebih gesit saat permintaan pasar kembali membaik.
***













