ABNnews — Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai momentum memperkuat empati dan kepedulian sosial.
Menurutnya, Ramadhan bukan hanya sekadar ritual menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang lebih peduli dan berempati.
“Puasa adalah proses mengasah kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga, tersimpan pesan kuat tentang empati kepada sesama dan kepedulian pada mereka yang kekurangan,” demikian disampaikan Menag dalam pesan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Jakarta, Jumat (20/03).
Menag menjelaskan, gema takbir yang berkumandang menandai berakhirnya Ramadhan sekaligus menjadi simbol kemenangan spiritual, yaitu kemampuan menjaga nilai-nilai Ramadhan sampai sebelas bulan mendatang.
“Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,” ungkap Menag, seperti dikutip dari laman kemenag.goi.d.
Ia juga mengingatkan bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk menyemai kebaikan dan meraih keberkahan. Keberkahan, kata Menag, hanya hadir pada hati yang terbuka dan pada mereka yang aktif menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.
Karena itu, Menag mengajak umat Islam untuk tidak membiarkan semangat Ramadhan berakhir seiring datangnya Idul Fitri.
Nilai-nilai disiplin, kejujuran, dan kepedulian yang telah dilatih selama Ramadhan harus terus dijaga dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan, kedamaian, dan kerukunan bagi bangsa Indonesia,” tandas Menag.













