ABNnews – Kain bukan sekadar lembaran tekstil, melainkan identitas budaya yang melekat lintas waktu. Hal inilah yang diyakini Ifti, sosok pengusaha batik asal Depok yang mendedikasikan hidupnya melestarikan wastra Nusantara lewat brand Pekatan Batik.
Berdiri sejak November 2019, perjalanan Ifti tidaklah mulus. Baru seumur jagung, usahanya langsung dihantam pandemi COVID-19 hingga sempat vakum. Namun, kecintaannya pada batik pesisiran, tenun Badui, dan lurik ATBM membuatnya bangkit melalui penjualan daring.
“Dulu awalnya usaha di bidang fashion, tapi kecintaan pada wastra Nusantara lebih kuat. Kami ingin menjaga agar batik dan tenun tetap hidup dan dikenakan lintas generasi,” ujar Ifti, Minggu (15/3/2026).
Ubah Stigma ‘Batik Jadul’ Jadi Modern
Lewat Pekatan Batik, Ifti berupaya mendobrak anggapan bahwa batik hanya untuk acara formal atau orang tua. Dengan desain ready-to-wear yang modern, terbatas, dan eksklusif, produknya kini digemari anak muda.
Tak hanya itu, Pekatan Batik juga menerapkan konsep ramah lingkungan. Sisa potongan bahan (limbah kain) tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi.
Pencapaian Pekatan Batik:
* Pasar Global: Produknya sudah menjangkau Korea hingga beberapa negara di Eropa.
* Suvenir Internasional: Kerap dipesan instansi dan perusahaan untuk agenda internasional.
* Eksklusivitas: Produksi dalam jumlah terbatas guna menjaga kualitas dan nilai seni.
Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI
Titik balik perkembangan bisnis Ifti terjadi saat ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024. Meski tak punya latar belakang desainer, ia melahap berbagai pelatihan mulai dari desain, bisnis, hingga keuangan.
“Proses yang paling berdampak adalah expo dan pelatihan desain. Dari expo saya bisa melihat produk yang paling diminati pasar. Saya banyak belajar pengelolaan bisnis dan mendapat kesempatan business matching,” ungkap Ifti.
Komitmen BRI Dorong UMKM Go Global
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif agar UMKM naik kelas. Inisiatif ini disusun untuk mendukung pengusaha lokal memperluas jaringan pasar.
“Pembinaan UMKM menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” kata Akhmad.
Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia, 18.218 Pelatihan telah digelar bagi pelaku UMKM.
Kisah Ifti dan Pekatan Batik menjadi bukti nyata bahwa wastra tradisional bisa tetap modis dan punya daya saing tinggi di pasar internasional jika dikelola dengan manajemen bisnis yang modern.













