banner 728x250

Indonesia Punya ‘Perisai’ Energi, J.P. Morgan: Jauh Lebih Aman dari Jepang dan Korsel

Ilustrasi. (Foto dok J.P. Morgan)

ABNnews – Indonesia baru saja mendapat rapor hijau dari lembaga keuangan dunia, J.P. Morgan Asset Management. Dalam laporan terbaru bertajuk “Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026”, Indonesia dinobatkan sebagai negara peringkat kedua dunia yang paling tahan banting terhadap guncangan energi global.

Hasil riset yang dirilis 21 Maret 2026 ini menganalisis 52 negara yang mewakili 82% konsumsi energi dunia. Indonesia tercatat memiliki “perisai” energi yang sangat kuat, mengungguli negara-negara maju yang justru berada di zona rentan.

J.P. Morgan menggunakan indikator total insulation factor untuk mengukur seberapa mandiri sebuah negara dalam memenuhi kebutuhan energinya dari sumber domestik (batu bara, gas, nuklir, dan energi terbarukan).

Indonesia mencatatkan skor fantastis sebesar 77%. Angka ini menempatkan RI tepat di bawah Afrika Selatan (79%) dan berhasil menyalip Tiongkok (76%) serta Amerika Serikat (70%). Kekuatan utama RI bersumber dari produksi batu bara domestik yang memenuhi 48% konsumsi nasional, disusul gas bumi (22%), dan energi terbarukan (7%).

Salah satu poin menarik dalam laporan ini adalah rendahnya ketergantungan Indonesia pada jalur distribusi energi global yang rawan konflik. Saat negara-negara Asia Timur was-was, Indonesia justru relatif tenang.

Impor migas RI yang melalui Selat Hormuz hanya menyumbang 1% dari total konsumsi energi primer. Bandingkan dengan negara tetangga dan mitra dagang yang sangat bergantung pada jalur tersebut: Korea Selatan 33%, Singapura 26% serta Taiwan & Thailand 27%


J.P. Morgan pun menyoroti Jepang, Italia, dan Belanda sebagai negara-negara yang paling rawan karena ketergantungan impor yang sangat tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut positif temuan ini. Menurutnya, pengakuan J.P. Morgan adalah validasi bahwa kebijakan ketahanan energi Pemerintah sudah berada di jalur yang benar.

“Hasil ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026. Ini membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha di tengah volatilitas harga energi dunia,” ujar Airlangga.

Meski berada di posisi aman, Airlangga menegaskan pemerintah tetap akan memperkuat produksi migas domestik, mempercepat transisi energi (EBT), serta mendorong penggunaan kendaraan listrik (KBLBB) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak secara struktural.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *