banner 728x250

Tragis! Kalah Main Game, Siswa SMP di Singkawang Kepret Teman Pakai Palu hingga Tengkorak Pecah

Ilustrasi (Getty Images/iStockphoto/Thai Liang Lim)

ABNnews – Nasib pilu menimpa seorang siswa kelas satu SMP negeri di Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), berinisial W (12).

Bocah malang ini harus dilarikan ke RSUD Abdul Aziz dan menjalani perawatan intensif akibat menjadi korban penganiayaan sadis oleh teman sebayanya sendiri. Alasan di baliknya bikin elus dada: dipicu urusan sepele saat main game bareng.

Hantaman brutal dari pelaku membuat W mengalami luka sangat serius di bagian kepala hingga tempurung kepalanya dilaporkan pecah.

Ibu korban, Chinusha (38), membeberkan bahwa petaka ini bermula ketika anaknya asyik bermain game bersama pelaku. Diduga, pelaku tersinggung berat dan memendam emosi mendalam setelah menelan kekalahan dalam permainan tersebut.

“Pelaku marah karena merasa tersentuh oleh anak saya saat main. Sejak itu, dia sering mengajak berkelahi, tapi anak saya tidak pernah meladeni karena mereka berteman baik,” ungkap Chinusha dikutip dari TribunPontianak, Jumat (22/5/2026).

Aksi penganiayaan berdarah itu akhirnya pecah pada Jumat (15/5/2026) di kawasan Jalan KS Tubun. Saat itu, W tengah asyik bermain di rumah salah satu temannya.

Tanpa disangka, pelaku tiba-tiba datang menyergap sambil menenteng sebilah palu. Tanpa ampun, pelaku langsung menghantamkan benda tumpul tersebut ke arah korban hingga tersungkur.

“Anak saya langsung kejang-kejang di lokasi setelah dipukul,” kenang Chinusha dengan nada lirih.

Hasil pemeriksaan tim medis di rumah sakit menunjukkan luka yang dialami W sangat mengerikan. Tengkorak kepala bocah 12 tahun itu pecah akibat hantaman benda tumpul bertubi-tubi.

Tak hanya luka luar, dampak benturan keras tersebut merusak sistem saraf yang langsung memengaruhi kondisi fisik korban. Saat ini, W masih terbaring lemah di ruang perawatan intensif.

Dokter menyebut W memerlukan pengobatan jangka panjang, termasuk agenda operasi lanjutan demi memasang kembali tempurung kepalanya.

“Kondisinya sangat memilukan. Selain luka di kepala, salah satu kakinya sekarang belum bisa digerakkan secara normal,” kata Chinusha.

Di tengah penderitaan sang anak, keluarga korban kini harus terseok-seok menghadapi badai kesulitan biaya pengobatan. Chinusha mengaku saat ini keluarganya hanya bisa mengandalkan fasilitas BPJS Kesehatan untuk menutup biaya perawatan rumah sakit.

Kasus penganiayaan berat ini pun dipastikan sudah resmi dilaporkan ke pihak kepolisian setempat agar diproses secara hukum.

Kendati hukum tetap berjalan, Chinusha mengetuk pintu hati keluarga pelaku agar menunjukkan iktikad baik dan ikut bertanggung jawab membiayai pengobatan W sampai pulih total.

“Kami orang susah, perjalanan pengobatan W masih sangat panjang. Kami tidak dendam, kami hanya ingin ada tanggung jawab agar anak kami bisa sembuh dan sekolah lagi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *