ABNnews – Sektor industri pengolahan kembali menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhannya mencapai 5,30 persen, sukses melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, capaian positif ini tak lepas dari peran vital industri agro. Per Desember 2025, industri agro menyumbang 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
“Capaian ini menunjukkan peran penting sektor industri agro dalam memperkuat struktur industri nasional,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Indonesia Kuasai 8,46% Kebutuhan Kakao Global
Salah satu bintang utama dalam sektor ini adalah industri pengolahan kakao. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa Indonesia kini menempati posisi sebagai produsen kakao olahan terbesar keempat di dunia.
Saat ini, Indonesia telah menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global, mulai dari cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake, hingga cocoa powder.
“Industri ini berkontribusi terhadap devisa negara sebesar USD 3,42 miliar (sekitar Rp 53,8 triliun). Posisi ini mempertegas peran strategis Indonesia dalam rantai pasok dunia,” jelas Putu.
Strategi ‘Hujan’ Insentif: Dari Dana BPDP hingga Restrukturisasi Mesin
Untuk menjaga momentum ini, pemerintah menyiapkan sederet langkah strategis guna mengatasi keterbatasan bahan baku:
* Integrasi BPDP: Kakao kini masuk dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk revitalisasi kebun dan penguatan SDM.
* Restrukturisasi Mesin: Kemenperin mengalokasikan anggaran khusus bagi pabrik cokelat untuk modernisasi alat produksi agar lebih efisien.
* Pasar Global: Adanya penundaan aturan deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan tarif 0 persen dari Amerika Serikat menjadi peluang emas bagi ekspor kakao RI.
Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Konferensi Kakao Dunia 2026
Menegaskan posisinya sebagai raksasa kakao, Indonesia siap menggelar The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
Mengusung tema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World”, forum ini bakal menjadi ajang kumpul pemain kakao global untuk memperkuat kolaborasi.
“Kami optimistis sinergi hulu-hilir dan modernisasi industri akan memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri kakao Asia,” pungkas Putu.













