banner 728x250

Kenapa Gorengan Terlihat Lebih ‘Gemoy’ Saat Puasa? Ternyata Ini Penjelasan Medisnya!

Ilustrasi. (Foto: Ist)

ABNnews – Fenomena ‘war takjil’ di bulan Ramadan selalu punya daya tarik tersendiri. Yang paling bikin gagal fokus, apalagi kalau bukan deretan gorengan yang baru mentas dari wajan.

Bakwan yang masih mengepul, risol crispy yang ‘gemoy’, sampai tahu isi seolah punya aura magnetis yang bikin kita ingin borong semuanya.

Anehnya, meski setiap hari gorengan ini selalu ada, kenapa pas lagi puasa penampakannya jadi berkali-kali lipat lebih menggoda? Ternyata, ada alasan medis di balik “glowing”-nya bakwan dan kawan-kawan saat kita lapar!

Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK mengungkapkan ada peran hormon ghrelin alias hormon lapar di balik fenomena ini. Saat berpuasa, kadar hormon ini meningkat pesat, yang secara otomatis memicu indra-indra manusia menjadi jauh lebih sensitif.

“Hormon lapar atau ghrelin ini memang meningkat, jadi otak lebih peka terhadap makanan tinggi kalori,” kata dr Nathania dikutip detikcom, minggu (22/2/2026).

Tak hanya mata, hidung kita pun jadi lebih “tajam” saat perut kosong. Bau minyak dan adonan gorengan yang gurih terasa lebih menusuk dan menggugah selera.

“Indra penciuman bisa juga lebih sensitif saat lapar. Karena itu, makanan yang berlemak kayak gorengan itu terlihat dan terbayang-bayang sebagai makanan yang jauh lebih menarik,” sambungnya.

Momen berbuka seringkali menjadi ajang balas dendam. Semua takjil yang dibeli saat ‘war’ langsung dilahap tanpa sisa. Namun, spesialis jantung dan pembuluh darah dr Yislam Aljaidi, SpJP FIHA, mengingatkan bahwa kebiasaan kalap ini justru merusak tujuan utama puasa bagi kesehatan.

“Masalahnya, ketika kita puasa terus kita pas berbuka itu makannya langsung lemak, gorengan, karbo tinggi. Habis itu minum jus buah gula banyak, gorengan lagi, jam sembilannya makan nasi lagi. Itu yang membuat nggak bagus,” tegas dr Yislam.

Agar metabolisme tubuh tetap terjaga dan jantung aman, dr Yislam menyarankan untuk beralih dari karbohidrat simpleks (seperti tepung-tepungan dan gula) ke karbohidrat kompleks.

“Kalau yang kompleks misalnya nasinya diganti nasi merah atau beras basmati, itu indeks glikemiknya rendah. Jadi ketika makan, itu nggak langsung menaikkan gula darah pesat, tapi dia stabil,” tutupnya.

Jadi, boleh saja ikut seru-seruan ‘war takjil’, tapi jangan sampai hormon ghrelin menguasai logika kamu ya! Tetap kontrol porsi demi kesehatan tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *