ABNnews — Kebiasaan menenggak minuman energi tanpa kendali kembali mendapat sorotan tajam. Seorang pria di Inggris mengalami stroke ringan akibat kerap mengonsumsi minuman energi.
Sebuah laporan medis dari Inggris mengungkap kisah seorang pria paruh baya mengalami stroke ringan setelah bertahun-tahun mengonsumsi hingga delapan minuman energi setiap hari.
Delapan tahun berlalu sejak kejadian itu, sebagian dampaknya masih ia rasakan hingga sekarang, demikian laporan yang dipublikasikan di BMJ Case Reports.
Pasien yang identitasnya dirahasiakan mengaku sama sekali tidak menyadari bahaya kebiasaan tersebut. Stroke yang dialaminya meninggalkan mati rasa kronis di sisi kiri tubuh, mulai dari tangan, jari, hingga kaki dan jari kaki.
Saat pertama kali dilarikan ke unit gawat darurat di usia 50-an, tekanan darah pria tersebut berada pada level krisis hipertensi, kondisi yang dikenal sebagai faktor risiko paling dominan untuk stroke iskemik.
Pemindaian otak pun memastikan adanya bekuan darah di otaknya. Meski kondisi akutnya berhasil ditangani dan ia dipulangkan setelah tiga hari perawatan, masalah belum sepenuhnya usai.
Beberapa bulan kemudian, tekanan darahnya kembali melonjak, bahkan setelah dosis obat hipertensi ditingkatkan.
Titik terang baru muncul ketika dokter menggali lebih dalam gaya hidup pasien. Dari situlah terungkap kebiasaan ekstremnya. Rata-rata delapan minuman energi setiap hari.
Jumlah tersebut setara dengan asupan kafein hingga 1,3 gram per hari, lebih dari tiga kali lipat batas aman yang umumnya direkomendasikan, yakni sekitar 400 miligram.
Meski hubungan sebab-akibat langsung antara minuman energi dan stroke belum bisa dipastikan sepenuhnya, para peneliti menegaskan minuman berkafein tinggi diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dalam jangka pendek.
Kekhawatiran pun muncul bahwa konsumsi berlebihan secara terus-menerus bisa menimbulkan dampak kronis pada sistem kardiovaskular dan pembuluh darah otak.
Menariknya, setelah pasien benar-benar menghentikan konsumsi minuman energi, tekanan darahnya berangsur stabil. Dokter bahkan berhasil mengurangi, lalu menghentikan obat hipertensi yang sebelumnya harus ia konsumsi rutin.
Kini, delapan tahun setelah stroke, ia hampir pulih sepenuhnya meski gangguan sensorik di sisi kiri tubuh masih tersisa. Para peneliti menilai kasus ini sebagai peringatan serius.
Menurut mereka, baik konsumsi akut maupun kronis minuman energi berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, namun kabar baiknya, sebagian dampak tersebut mungkin dapat dibalik jika konsumsi dihentikan tepat waktu.
Karena itu, tim peneliti mendorong regulasi yang lebih ketat terhadap penjualan dan iklan minuman energi, terutama yang menyasar kelompok usia muda.
Mereka juga mengingatkan tenaga medis untuk secara aktif menanyakan konsumsi energy drink pada pasien dengan hipertensi tak terjelaskan atau stroke di usia relatif muda.













