banner 728x250

Pemerintah Pede PDB Tembus 8%, BUMN Manufaktur dan Farmasi Jadi Motor Utama Transformasi

Foto: Kemenko Perekonomian

ABNnews – Perekonomian Indonesia tahun 2025 menunjukkan ketahanan yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Data PDB Kuartal III-2025 tercatat sebesar 5,04% (yoy), sejalan dengan target pertumbuhan tahunan 5,2%.

Konsumsi rumah tangga (naik 4,89%) dan investasi (PMTB naik 5,04%) tetap menjadi pendorong utama. Selain itu, optimisme juga datang dari sektor manufaktur dengan PMI yang mencapai 53,3 pada November 2025.

Guna memperkuat fondasi ini, Kemenko Perekonomian menyelenggarakan Seminar Ekonomi Nasional bertema “Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi 2026: Peran Strategis BUMN Industri Manufaktur dan Farmasi” pada Kamis (11/12).

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, menegaskan bahwa target pertumbuhan tinggi untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045 bukanlah mimpi.

“Target pertumbuhan 8% pada 2029 bukanlah sesuatu yang mustahil, kita pernah tumbuh di atas 7% di era 1990-an. Kuncinya adalah industrialisasi yang berkelanjutan, percepatan hilirisasi, serta penguatan BUMN terutama sektor manufaktur dan farmasi sebagai motor transformasi ekonomi nasional,” ungkap Ferry.

Sektor Industri Manufaktur, yang menyumbang 19,15% terhadap PDB, kembali ditegaskan sebagai tulang punggung perekonomian. Fokus penguatan manufaktur diarahkan melalui pembangunan mobil nasional berbasis Electric Vehicle (EV).

Inisiatif ini dianggap krusial untuk mendorong reindustrialisasi dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia memiliki mobil nasional sebagai simbol kemandirian teknologi.

Ekosistem EV dinilai sudah memiliki fondasi kuat, termasuk bahan baku baterai dan pasar domestik yang besar. Ke depan, diperlukan roadmap yang terukur, skema pembiayaan yang kuat, dan komitmen Pemerintah sebagai early adopter.

Di sesi kedua, industri farmasi disorot sebagai elemen kunci ketahanan nasional. Kemandirian Bahan Baku Obat (BBO) menjadi agenda strategis untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat struktur ekonomi.

Strategi yang didorong meliputi perluasan penggunaan BBO lokal, penjaminan pasar melalui pengadaan Pemerintah, dan pembangunan ekosistem hulu-hilir. Selain itu, kebijakan perdagangan dan Non-Tariff Measures (NTMs) akan disesuaikan agar ketahanan tidak mengorbankan daya saing.

Asisten Deputi Pengembangan BUMN, Muhamad Edy Yusuf, menutup diskusi dengan menekankan bahwa roadmap yang terukur dan sinergi antar pemangku kepentingan adalah kunci untuk mewujudkan strategi mobil nasional dan pengembangan industri BBO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *