Kisah Haru Lu’luatun yang Meninggal di Atas Motor di Ponorogo, Tanggung Hidup 4 Anak Sendirian

Seorang ibu empat anak ketika ditemukan tewas di atas sepeda motornya, di Kecamatan Slahung, Ponorogo, Sabtu (17/10). Foto: Tangkapan Layar

ABNnews – Kisah haru menyelimuti kepergian Lu’luatun Nikmah (38), seorang ibu yang ditemukan meninggal dunia di atas sepeda motornya di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Perempuan asal Desa Jebeng tersebut menghembuskan napas terakhirnya saat berjuang menanggung hidup empat anaknya seorang diri.

Semenjak sang suami, Syamsuddin, meninggal dunia sekitar dua tahun lalu, Lu’luatun melakoni berbagai pekerjaan serabutan demi mencukupi kebutuhan harian anak-anaknya.

“Pekerja keras. Sampai cari daun pisang untuk dijual ke pedagang-pedagang juga. Semua dikerjakan Mbak,” ujar tetangga almarhumah, Ahmad Iqdam Muslihuddin, dikutip tribunjatim, Rabu (21/10/2026).

Ahmad menceritakan bahwa almarhumah giat mengumpulkan daun pisang di sekitar permukimannya untuk disetorkan ke pemilik warung makan.

Selain itu, Lu’luatun juga memutar otak dengan membuat rujak, asinan, hingga mengumpulkan kain perca untuk dijual kembali.

“Kebetulan yang membeli itu tetangga samping rumah saya, beliau ada warung gitu, almarhumah sering setor. Almarhumah ini pekerja keras,” pukas Ahmad.

Ketangguhan Lu’luatun sudah teruji sejak kecil. Kedua orang tuanya wafat saat ia masih belia, hingga akhirnya ia dirawat oleh kakak dari neneknya sampai dewasa.

Kini, kepergian Lu’luatun meninggalkan duka mendalam bagi keempat buah hatinya. Si bungsu baru berusia sekitar 3,5 tahun, sementara tiga kakak-kakaknya masih menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan tinggal di lingkungan pesantren.

Meski harus membanting tulang sendirian, Ahmad menyebut pihak keluarga dari almarhum suaminya dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) tetap memberikan perhatian serta bantuan bagi keluarga tersebut.

Semasa hidupnya, Lu’luatun dikenal tak pernah mengeluhkan penyakit apa pun. Momen tragis itu terjadi ketika almarhumah bertekad mengantarkan anak bungsunya berobat ke bidan di wilayah Gombang.

Usai sempat kembali ke rumah setelah pengobatan pertama, sang anak rupanya kembali mengalami muntah-muntah. Lu’luatun pun bergegas membonceng anaknya kembali menuju ke bidan yang berjarak sekitar 3 kilometer.

Nahas, di tengah perjalanan, fisik Lu’luatun mendadak drop. Ia sempat menepikan sepeda motornya di tepi jalan sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di atas kendaraannya.

“Padahal di perjalanan beliau merasa enggak enak badan, terus minggir dan meninggal dunia,” tutup Ahmad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *