Gunung Anak Krakatau Mengamuk Lagi, 13 Erupsi Terjadi dalam Semalam

Ilustrasi. Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

ABNnews – Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan mengamuk lagi. Gunung api aktif di Selat Sunda tersebut mencatatkan 13 kali erupsi beruntun hanya dalam waktu semalam, sejak Jumat (9/10/2026) sore hingga malam hari.

Terkait peningkatan aktivitas tersebut, petugas pemantau mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak lengah serta tetap disiplin mematuhi rekomendasi keselamatan.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa aktivitas gunung api merupakan fenomena alam yang perkembangannya tidak bisa dipastikan secara rinci. Pihaknya berharap rentetan letusan tersebut segera mereda.

“Yang diharapkan jangan besarnya, kalau bisa berhenti. Namun, itu alam, kita tidak bisa menebak,” ujar Suwarno.

Berdasarkan catatan pengamatan resmi, rentetan erupsi mulai terjadi pada pukul 16.17 WIB dan terus berulang hingga pukul 21.20 WIB. Pada erupsi perdana, kolom abu teramati membubung setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Abu letusan berwarna kelabu hingga hitam pekat tersebut bergerak ke arah utara dan barat laut. Pada sejumlah erupsi berikutnya, tinggi kolom letusan memang tidak teramati secara visual akibat tertutup kabut, namun aktivitas vulkaniknya tetap terekam kuat di instrumen seismograf.

Erupsi pada pukul 21.17 WIB misalnya, tercatat memiliki amplitudo maksimum hingga 57 milimeter dengan durasi 89 detik. Hanya berselang tiga menit, GAK kembali meletus dengan amplitudo maksimum 43 milimeter berdurasi 31 detik.

Suwarno menegaskan pihaknya terus memprioritaskan pemantauan nonstop guna mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung. Baginya, keselamatan masyarakat luas adalah hal yang utama.

“Ya, cuma bisa berharap dan sebisa mungkin menyelamatkan masyarakat banyak, dengan melalui peralatan,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa rentetan erupsi ini tidak bisa serta-merta dijadikan tolok ukur pasti akan terjadinya letusan yang lebih dahsyat. Evaluasi berkala terus dilakukan berdasarkan rekaman instrumen.

Di tengah gejolak vulkanik ini, masyarakat dan wisatawan dilarang keras mendekati kawah aktif GAK. Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, kawasan dalam radius 2 kilometer dari kawah wajib dikosongkan dari aktivitas manusia.

Suwarno memperingatkan adanya ancaman nyata berupa lontaran batu pijar dan debu vulkanik jika ada yang nekat mendekat.

“Risikonya jika mendekati radius yang sudah direkomendasikan Badan Geologi PVMBG, itu harus kita indahkan karena dikhawatirkan terkena lontaran batu pijar dan debu dari kawah aktif GAK,” jelas Suwarno.

Masyarakat diimbau tidak menjadikan tidak terlihatnya erupsi secara visual sebagai alasan untuk mendekati area bahaya. Warga di sekitar pesisir Selat Sunda pun diminta tetap tenang serta selalu memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan petugas pemantau di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *