Dunia  

Pesan Peringatan Mencekam di Riyadh: Ibu Kota Saudi Dihantam Ancaman Udara Musuh

Ilustrasi.(SHUTTERSTOCK)

ABNnews – Suara ledakan keras terdengar mengguncang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026) waktu setempat.

Ledakan tersebut bergema tak lama setelah otoritas Arab Saudi mengeluarkan pesan peringatan mencekam terkait adanya serangan udara musuh dari kelompok Houthi pro-Iran di Yaman.

Pesan peringatan resmi yang mengudara di telepon seluler warga Riyadh mengonfirmasi ancaman udara yang mengincar langsung kawasan pusat pemerintahan Saudi tersebut.

“Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh,” demikian bunyi pesan peringatan yang diterima oleh para penduduk di ibu kota Arab Saudi, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026).

Insiden ini menjadi kali pertama ibu kota terdampak secara langsung sejak konflik di negara tetangga, Yaman, kembali memanas secara drastis sejak bulan Juli lalu.

Eskalasi pertempuran memuncak setelah kelompok Houthi pada Jumat (18/9) mengklaim bahwa Arab Saudi telah melancarkan 26 kali gempuran ke wilayah kekuasaan mereka hanya dalam kurun 24 jam terakhir.

Houthi menyebutkan total serangan udara Arab Saudi sepanjang sepekan terakhir bahkan telah menembus angka 300 kali. Gempuran itu menyasar berbagai wilayah strategis yang dikuasai kelompok pro-Iran tersebut di Yaman.

Tak hanya baku tembak udara, Houthi yang berhasil menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman serta Selat Bab al-Mandab juga secara resmi mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

Blokade ini memukul jalur ekspor minyak utama Arab Saudi yang dialihkan ke Laut Merah akibat ditutupnya Selat Hormuz dalam konflik Timur Tengah.

Meski begitu, Houthi menjamin jalur navigasi internasional tetap bebas bagi negara lain, kecuali untuk kapal-kapal berbendera Arab Saudi.

Konflik yang berawal sejak 2014 saat Houthi merebut kota Sanaa ini sempat melandai pada 2022, sebelum akhirnya kembali meletus hebat. Intervensi koalisi militer pimpinan Arab Saudi sejak 2015 pun makin memperluas gejolak krisis di negara tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat pertempuran yang kembali berkobar ini telah memaksa lebih dari 112.000 warga sipil mengungsi dari rumah mereka. Selain itu, sekitar 3.000 orang nekat melarikan diri menyeberangi laut menuju Djibouti.

Gelombang pengungsian ini kian memperparah penderitaan rakyat Yaman. PBB sebelumnya mencatat sekitar 17 juta warga Yaman harus berjuang keras demi memperoleh makanan, dengan satu juta jiwa di antaranya berada di ambang ancaman kelaparan ekstrem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *