ABNnews – Sebuah skandal besar mengguncang biara kerajaan kuno di Thailand setelah seorang biksu ternama, Phra Vajirayan alias Luang Por Chot (66), ditangkap polisi atas dugaan penggelapan dana kuil hingga 100 juta baht atau sekitar Rp 53 miliar.
Kasus penyelewengan dana tersebut semakin menjadi sorotan publik usai terungkapnya rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi asusila sang biksu bersama asisten perempuannya di atas meja makan kediamannya.
Dikutip dari Bangkok Post, Minggu (13/9/2026), Biro Investigasi Pusat (CIB) Thailand menggerebek kediaman kepala kuil Wat Phutthaisawan tersebut di Ayutthaya pada Kamis sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Polisi menangkap sang biksu bersama asisten pribadinya.
Komisaris CIB Pol Lt Gen Natthasak Choawanasai menjelaskan penyelidikan bermula dari laporan dugaan penyalahgunaan uang kuil. Pelaku diduga menyerahkan uang hasil pencucian dana tersebut kepada seorang perempuan untuk menyamarkan kepemilikannya.
Hasil penyelidikan diam-diam polisi mengungkapkan Phra Vajirayan telah menjalankan aksi ilegal ini selama lebih dari dua tahun.
Biksu yang populer di kalangan umat sebagai pembuat jimat seperti koin “Nuea Duang” tersebut diduga menerbitkan lebih dari 20 kuitansi donasi atas nama kuil tanpa izin.
Dana dari hasil penjualan jimat dan benda keagamaan tersebut dialihkan melalui sebuah yayasan sebelum akhirnya mengalir deras ke rekening pribadi.
Polisi menduga pola penyelewengan ini mirip dengan skandal penggelapan dana di kuil Wat Phrabat Namphu yang merugikan negara hingga 10 miliar baht.
Kasus ini berkembang tajam saat penyidik memeriksa rekaman CCTV di privat kediaman Phra Vajirayan.
Polisi menemukan rekaman video sang biksu melakukan aktivitas seksual dengan asisten perempuannya di atas meja yang biasa digunakan untuk makan.
Video tersebut ternyata diserahkan langsung oleh sejumlah pengikut sang biksu yang muak dan tidak dapat lagi menoleransi perilakunya.
Asisten perempuan berusia 47 tahun bernama Punyavee Rungrueang ikut ditangkap atas dugaan membantu pejabat negara melakukan aktivitas ilegal.
Sesuai hukum Thailand, biksu tertentu dikategorikan sebagai pejabat negara karena menerima tunjangan bulanan dari pemerintah.
Rekening bank Punyavee disebut menampung aliran dana hingga puluhan juta baht setiap tahunnya.
Usai ditangkap, Phra Vajirayan langsung dibawa ke aula penahbisan kuil untuk menjalani prosesi pencabutan status kebiksuan.
Ia dipaksa melepas jubah keagamaannya, mengenakan jubah putih, dan kembali menggunakan nama awalnya, Atichote Thammavaro, sebelum digiring ke markas CIB.
Dalam penggeledahan di rumah Punyavee di Distrik Khlong Luang, Pathum Thani, polisi menyita 35 jimat emas, batangan emas, serta perhiasan seberat 1,36 kilogram senilai 6,04 juta baht.
Petugas juga mengamankan uang tunai 3,6 juta baht, iPad, smartphone, sertifikat tanah, tujuh buku rekening, dokumen investasi, serta empat kupon lotere perbankan.
Polisi menegaskan penyelidikan masih terus berkembang karena diduga masih ada dua atau tiga pelaku lain yang terlibat, serta tidak menutup kemungkinan adanya perempuan lain dalam skandal yang mencoreng institusi keagamaan Thailand tersebut.












