ABNnews – Akselerasi penyaluran kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melesat hingga mencapai Rp 1.646 triliun atau tumbuh 16,2% secara year-on-year (yoy) pada Triwulan II 2026.
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, membeberkan strategi pertumbuhan bisnis yang tetap sehat dan berkelanjutan di balik performa impresif tersebut.
Dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Achmad Royadi menegaskan bahwa ekspansi kredit ini ditopang oleh fundamental yang kokoh, likuiditas memadai, serta permodalan yang kuat.
Royadi memaparkan, likuiditas perseroan terjaga pada tingkat yang ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi, tecermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi sebesar 90,8%. Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sangat solid di level 21,5%.
“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad Royadi.
Kekuatan likuiditas BRI juga tak lepas dari kualitas pendanaan yang kian membaik. Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI pada Triwulan II 2026 menembus angka Rp 1.581 triliun atau tumbuh 6,7% (yoy).
Pertumbuhan DPK tersebut diiringi peningkatan porsi dana murah, yang ditunjukkan oleh kenaikan rasio CASA dari 65,5% menjadi 67,6%. Peningkatan dana murah ini memberikan ruang gerak lebih luas bagi BRI untuk berekspansi sembari menekan risiko.
Di tengah laju pembiayaan yang tinggi, BRI tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) melalui strategi selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.
Hasilnya, indikator kualitas aset dan risiko kredit BRI menunjukkan perbaikan menyeluruh:
* Rasio NPL (Non-Performing Loan): Turun dari 3,07% di akhir 2025 menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026.
* Rasio LaR (Loan at Risk): Turun dari 9,6% menjadi 9,1%.
* Cost of Credit (CoC): Menyusut dari 3,4% menjadi 3,1%.
Kombinasi antara pertumbuhan bisnis yang agresif dan perbaikan kualitas fundamental mengerek total aset BRI sebesar 11,7% (yoy) menjadi Rp 2.352 triliun. Sepanjang Triwulan II 2026, BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 31,2 triliun, atau meroket 17,5% secara tahunan.
Ke depan, BRI akan terus memfokuskan penyaluran kredit pada segmen UMKM yang menjadi inti bisnis (core business) Perseroan. Langkah ini beriringan dengan komitmen bank dalam memperluas inklusi keuangan serta menyokong program-program prioritas pemerintah.












