Imbas Dentuman dan Getaran Anak Krakatau: Sebagian Warga Carita Banten Mulai Mengungsi, BNPB Buka Suara Soal Potensi Tsunami!

Iustrasi. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi (Dok. PVMBG)

ABNnews – Sebagian warga di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, mulai mengambil langkah mengungsi akibat imbas rentetan getaran dan suara dentuman keras dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menanggapi kepanikan publik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung buka suara terkait potensi tsunami.

Kepanikan warga dipicu oleh rentetan dentuman yang membuat kaca dan jendela rumah bergetar secara berkala sejak dini hari.

“Getaran jendela dan dentuman keras sesekali ini sudah kami rasakan sejak jam 2 dini hari tadi,” kata salah seorang warga Carita, Mohd Rizqi Baidullah, dikutip detikcom, Sabtu (5/9/2026).

Rizqi menuturkan bahwa awalnya ia menduga getaran tersebut hanya dirasakan di kediamannya saja. Namun, saat memasuki pagi hari, seluruh tetangga di lingkungannya mengonfirmasi merasakan hal yang sama. Getaran tersebut terus terjadi secara hilang-timbul hingga saat ini.

“Hingga saat ini juga getaran masih terasa tapi sesekali menghilang dan sesekali lebih besar,” jelasnya.

Kemunculan dentuman dan getaran itu memicu ingatan kelam masyarakat setempat. Warga mengeluhkan trauma mendalam atas tragedi tsunami Selat Sunda yang menerpa kawasan tersebut pada 2018 lalu, sehingga sebagian di antaranya memilih untuk bergegas mengungsi.

“Masyarakat panik bahkan sebagian juga sudah ada yang pergi mengungsi. Sebagian tetangga udah ada yang mengungsi karena mungkin trauma akan kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu. Jujur kami masyarakat semuanya merasakan trauma mendalam akan terjadi lagi tragedi tsunami selat sunda itu,” tutur Rizqi.

Di sisi lain, Rizqi menyampaikan bahwa warga sebenarnya masih dibuat bingung oleh situasi di lapangan dan berharap adanya kepastian serta arahan resmi dari instansi pemerintah.

“Sebetulnya kami juga belum bisa memastikan apakah getaran dan sesekali dentuman keras yang kami rasakan ini betul dari aktivitas vulkanik Gunung Krakatau karena kami sendiri bingung belum ada informasi resmi apapun dari pemerintah. Kami masih bingung apa yang sebetulnya terjadi dan harus berbuat seperti apa,” tambahnya.

Merespons keresahan warga yang bermukim di kawasan pesisir Banten hingga Lampung, BNPB menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap situasi penanganan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengimbau agar masyarakat tidak terhanyut oleh isu liar dan tetap tenang.

“Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Oleh sebab itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik,” terang Berton, Sabtu (5/9/2026).

Kendati demikian, PVMBG dipastikan terus mengawal pemantauan secara ketat dari waktu ke waktu terhadap dinamika aktivitas dan perubahan morfologi gunung api tersebut. Warga diimbau untuk selalu merujuk pada informasi dan arahan resmi dari PVMBG tanpa mengambil tindakan spekulatif sekadar berdasarkan bunyi dentuman maupun fenomena visual semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *