ABNnews – PT Pertamina (Persero) resmi menggandeng raksasa dirgantara dunia, Boeing [NYSE: BA], melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Langkah strategis ini dilakukan untuk mengeksplorasi pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur hijau guna menyulap Indonesia menjadi raja bahan bakar pesawat ramah lingkungan di Asia Tenggara.
Kerja sama kakap ini menjadi bagian penting dari upaya dekarbonisasi sektor penerbangan global sekaligus mengakselerasi transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).
Langkah ini juga sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang terus mendorong pengembangan SAF sebagai solusi konkret untuk memangkas emisi karbon di sektor aviasi dan menciptakan industri penerbangan berkelanjutan.
Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama. Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati peringkat tiga besar di Asia Tenggara dengan potensi surplus produksi SAF terbesar. Angka produksinya diproyeksikan mampu menembus 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050.
Melalui kemitraan ini, Pertamina dan Boeing bakal berkolaborasi menggarap peta jalan SAF nasional, yang meliputi: Identifikasi Bahan Baku (Feedstock) yang memetakan potensi sumber daya domestik melimpah, Pengembangan Teknologi serta Dukungan Kebijakan & Edukasi.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang demi membangun kedaulatan industri SAF nasional yang kompetitif.
“Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Simon.
Kebutuhan avtur hijau di kawasan regional diproyeksikan melonjak tajam. Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7% per tahun, dengan kebutuhan armada mencapai 4.885 pesawat baru hingga tahun 2044.
Di tengah lonjakan tersebut, SAF menjadi senjata paling ampuh. Dalam bentuk murninya (neat SAF), bahan bakar nabati ini diklaim mampu mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80% dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional berbasis fosil.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara,” ungkap Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia.
Pertamina sendiri telah memulai sejumlah inisiatif konkret di lapangan untuk mendukung ekosistem SAF nasional, di antaranya:
1. Produksi & Sertifikasi: Memulai sertifikasi resmi untuk produk Pertamina SAF komersial.
2. Implementasi Maskapai: Penggunaan avtur hijau ini sudah diuji coba bersama maskapai Pelita Air.
3. Proyek Kilang Hijau: PT Pertamina Patra Niaga tengah mengebut proyek Cilacap Biorefinery untuk memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan memanfaatkan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) serta limbah berkelanjutan lainnya.
Sebagai pemimpin transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060. Seluruh transformasi hijau ini dijalankan dengan menerapkan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis, serta berkoordinasi erat dengan Danantara (https://www.danantaraindonesia.co.id/) demi menyokong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.












