Asap Beracun TPA Jatiwaringin Mengancam Pemukiman, Pemkab Tangerang Siapkan Pengungsian

Akses warga di Buaran Jati terganggu asap akibat Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Kamis (2/7/2026).(KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI)

ABNnews – Kepulan asap beracun akibat kebakaran hebat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, dilaporkan kian mengancam kawasan permukiman warga.

Mengantisipasi kondisi yang kian memburuk, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang gerak cepat menyiapkan dua lokasi pengungsian darurat.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah telah menyiagakan posko pengungsian beserta fasilitas pendukung, termasuk pasokan logistik berupa makanan dan air bersih bagi warga terdampak.

“Pak Bupati menegaskan akan mengevakuasi warga yang ada di sana, sama seperti proses evakuasi yang sukses dilakukan di wilayah timur kemarin,” kata Diaz dikutip dari antara, Minggu (5/7/2026).

Pemerintah juga mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat menggunakan masker dan menjauhi area dalam radius 1,7 kilometer dari lokasi titik api.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan, kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin sudah berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Kandungan polutan yang dihasilkan dinilai jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran hutan karena melibatkan material plastik dan gas metana.

Berdasarkan hasil pemantauan emisi oleh KLH, angka polusi melonjak berkali-kali lipat dari ambang batas aman:

* Partikulat Halus (PM2.5): Menembus 1.000 mikrogram per meter kubik (Baku mutu harian nasional hanya 55 mikrogram/m³).


* Partikulat PM10: Mencapai 750 mikrogram per meter kubik (Baku mutu aman hanya 75 mikrogram/m³).


* Zat Kimia Berbahaya: Tim KLH mendeteksi adanya paparan senyawa Nitrogen Oksida (NOx) dan Sulfur Oksida (SOx) dari plastik yang terbakar.


“Tentu plastik kan juga berdampak ke kesehatan. Dampaknya bahkan lebih berat dibandingkan kebakaran hutan dan lahan karena melibatkan pembakaran biomassa, gas metana, dan berbagai jenis sampah lainnya,” papar Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani.

Dampak paparan asap beracun ini mulai menyerang kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat, sedikitnya sudah ada 154 warga yang terinfeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mewanti-wanti agar infeksi ini dikawal ketat agar tidak berkembang menjadi pneumonia, khususnya pada balita dan lansia.

“Yang paling penting dijaga jangan sampai mereka itu menjadi pneumonia. Kalau dia jadi pneumonia akan berbahaya, karena pneumonia pada balita atau orang yang rentan bisa menyebabkan kematian,” tegas Hendra.

Demi meminimalisir jatuhnya korban baru, petugas kesehatan setempat kini rutin melakukan patroli dan sosialisasi pencegahan ISPA setiap pagi dan sore hari ke wilayah terdampak.

Selain membagikan masker medis, petugas meminta warga segera melakukan evakuasi mandiri jika arah angin membawa kepulan asap pekat langsung ke arah tempat tinggal mereka.

“Masyarakat yang terdampak asap, segera jika ada asap itu segera hindari dengan berpindah lokasi. Jika tidak memungkinkan, usahakan pakai masker,” pungkas Hendra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *