PLN EPI Blak-blakan Bongkar Strategi Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, saat menjadi pembicara dalam seminar "ReEnergize Summit 2026: Pentahelix Talks x IETD 2026 Goes to Campus" di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026).

ABNnews – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) blak-blakan membongkar strategi besarnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Anak usaha PLN ini tengah gencar mendorong pemanfaatan bioenergi sebagai motor diversifikasi energi primer demi mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus menjaga ketahanan nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa langkah strategis ini dilakukan melalui optimalisasi berbagai sumber daya energi domestik, mulai dari biomassa, biochar, compressed biomethane gas (CBG), hingga pemanfaatan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

Menurut Hokkop, tantangan utama saat ini sebenarnya bukan lagi terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana membangun kolaborasi yang kuat antar-pemangku kepentingan.

“Harus ada keberanian dari kita untuk berkolaborasi, antara PLN, mitra investasi, mitra lokal, pemerintah, regulator, akademisi, hingga dunia usaha agar pengembangan bioenergi dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan,” ujar Hokkop saat menjadi pembicara dalam seminar “ReEnergize Summit 2026: Pentahelix Talks x IETD 2026 Goes to Campus” di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026).

Sebagai subholding PLN yang bertanggung jawab menyediakan pasokan energi primer bagi seluruh pembangkit PLN Group, PLN EPI kini tidak hanya memastikan keandalan pasokan batu bara dan gas, tetapi juga terus memperluas portofolio berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Transformasi sektor pembangkitan ini diklaim sudah berjalan secara bertahap di lapangan. Saat ini, hampir seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN telah memanfaatkan biodiesel B40.

Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulai mengimplementasikan biomassa sebagai bahan bakar pendamping (cofiring) untuk memangkas konsumsi batu bara.

Selain biomassa, PLN EPI juga tengah mengembangkan berbagai varian produk bioenergi lainnya, meliputi:

* CBG (Compressed Biomethane Gas): Berasal dari limbah organik dan limbah cair untuk dimanfaatkan pada pembangkit berbasis gas.

* Biochar & RDF (Refuse Derived Fuel): Memanfaatkan potensi sampah perkotaan.

* Biofuel & Bioetanol: Sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.


“Target kami adalah memanfaatkannya berbagai sumber energi alternatif di luar energi fosil. Diversifikasi energi menjadi langkah penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mendukung pencapaian target pengurangan emisi nasional,” kata Hokkop.

Potensi bioenergi di tanah air pun terbilang fantastis. PLN EPI mencatat Indonesia memiliki potensi biomassa sekitar 83,4 juta ton per tahun yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Potensi yang berasal dari limbah perkebunan, pertanian, kehutanan, hingga sampah kota ini diharapkan bisa memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi masyarakat.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2029, bioenergi ditargetkan menyumbang tambahan kapasitas pembangkit sebesar 0,61 Gigawatt (GW) melalui program co-firing, pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm), dan biogas.

Secara keseluruhan, pengembangan energi terbarukan di Indonesia hingga tahun 2034 diproyeksikan membutuhkan dana yang tidak sedikit, yaitu sekitar Rp 1.682 triliun. Investasi jumbo ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau nasional.

Meski potensinya melimpah, Hokkop menggarisbawahi bahwa percepatan EBT masih terganjal tantangan infrastruktur, terutama kebutuhan investasi tinggi untuk jaringan transmisi dan distribusi.

Berbeda dengan fosil, pembangkit EBT harus dibangun mendekati sumber energinya, sehingga memerlukan dukungan jaringan yang mumpuni.

Oleh karena itu, Hokkop mengingatkan bahwa proses transisi ini harus berjalan hati-hati dan bertahap agar tidak membebani daya beli masyarakat.

“Transisi energi harus menjadi solusi, bukan menjadi beban. Yang kita dorong adalah proses peralihan menuju energi yang lebih bersih secara bertahap, dengan tetap menjaga keandalan pasokan listrik, keterjangkauan tarif, dan daya saing ekonomi nasional,” pungkas Hokkop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *