Tipu-tipu Loker Freeport-Bandara via WhatsApp, 178 Pencari Kerja di Mimika Kena Prank Massal!

Para pencaker mendatangi Sentra Pelayanan Polres Mimika untuk membuat laporan polisi, Jumat (19/6/2026). ‎(KOMPAS.com/SALMAWATI)

ABNnews – Sebanyak 178 pencari kerja (pencaker) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menjadi korban penipuan perekrutan tenaga kerja bodong yang mencatut nama PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Bandara Timika.

Tertipu modus lowongan kerja (loker) fiktif melalui grup WhatsApp, ratusan korban yang merugi hingga jutaan rupiah ini akhirnya berbondong-bondong mendatangi Sentra Pelayanan Polres Mimika untuk membuat laporan polisi.

Posko pengaduan di kantor polisi pun langsung diserbu warga yang merasa kena prank massal oleh sindikat tersebut pada Jumat (19/6/2026).

Para korban mengaku awalnya direkrut melalui sebuah grup WhatsApp bernama “Maret-April Job” yang dikelola oleh tiga orang admin.

Dengan iming-iming kemudahan proses seleksi yang hanya bermodalkan syarat foto KTP, mereka dijanjikan bakal langsung ditempatkan bekerja di lingkungan PTFI maupun Bandara Timika.

Namun, kemudahan tersebut rupanya memiliki pamrih. Setelah bergabung ke dalam grup, para pencari kerja diperas secara halus dengan dalih biaya administrasi. Mereka diminta mentransfer uang dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 8 juta, tergantung pada posisi pekerjaan yang ditawarkan.

“Ini untuk beberapa kontraktor yang baru buka di atas (Freeport), tapi itu kalau ke Freeport kan harus buat lamaran dan lain-lain, ini tidak, cuma minta KTP saja,” ungkap salah satu korban, Hendrik, di Mapolres Mimika, dikutip kompacom. Jumat (19/6/2026).

Skema penipuan ini akhirnya terbongkar setelah para korban menerima undangan resmi fiktif dari admin grup.

Dalam undangan tersebut, mereka dijadwalkan mengikuti rangkaian acara mulai dari family gathering, sesi wawancara, pemeriksaan kesehatan (medical check-up), pembuatan kartu identitas, penandatanganan kontrak kerja, hingga pengenalan perusahaan di salah satu hotel di Timika.

Nahas, saat ratusan korban mendatangi lokasi pada waktu yang ditentukan, pihak hotel menyatakan bahwa agenda kegiatan dari manajemen tersebut sama sekali tidak ada alias fiktif.

Korban lainnya, Yakobus Balubun, menceritakan pengalaman pahitnya yang telah terikat perangkap ini sejak awal tahun. Ia mengaku sudah mendaftar sejak Februari 2026 dan dijanjikan masuk kerja pada gelombang kelima. Agar namanya aman, Yakobus rela mentransfer uang sebesar Rp 5 juta sebagai biaya proses rekrutmen.

“Saya dijanjikan mulai bekerja pada Maret, tetapi dibatalkan. Bulan April dijanjikan lagi, namun kembali batal,” keluh Yakobus.

Berdasarkan data sementara, tarif yang dipatok para pelaku sangat beragam. Bahkan untuk posisi tingkat bawah seperti cleaning service, para pencaker tetap dimintai uang pelicin sebesar Rp 500.000.

Ironisnya, karena percaya dengan kedok pelaku, banyak korban yang akhirnya ikut mengajak teman dekat hingga anggota keluarga mereka sendiri untuk bergabung ke dalam pusaran investasi bodong tersebut. Kasus ini kini tengah ditangani intensif oleh Satreskrim Polres Mimika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *