banner 728x250

Bisa Jadi Obat Masa Depan, Peneliti BRIN Temukan Rahasia Antikanker di Dalam Madu dan Bee Pollen

BRIN temukan madu dari lebah tanpa sengat dengan berbagai potensi untuk kesehatan Foto: Dok. BRIN

ABNnews – Sebuah penemuan mutakhir yang berpotensi menjadi obat masa depan berhasil diungkap oleh para ilmuwan dalam negeri.

Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sukses mengidentifikasi adanya rahasia antikanker berupa bakteri asam laktat probiotik yang bersemayam di dalam madu dan bee pollen lebah tanpa sengat (klanceng) asli Indonesia.

Riset mendalam ini digarap oleh kolaborasi apik antara tim ahli Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama mitra akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam prosesnya, penelitian ini memanfaatkan sampel madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang dibudidayakan di wilayah Yogyakarta dan Sumbawa.

Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa madu lebah tanpa sengat selama ini memang sudah dikenal luas kaya akan senyawa bioaktif.

Namun, keberadaan mikroorganisme probiotik yang hidup dan berkembang biak di dalam madu serta bee pollen tersebut masih sangat jarang dikulik secara ilmiah.

“Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik,” ungkap Ema dalam keterangannya, dikutip Minggu (7/6/2026).

Dalam pelaksanaannya, tim ahli berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari berbagai spesies lebah tanpa sengat lokal, di antaranya Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi.

Dari sekian banyak isolat yang didapat, terpilihlah tujuh isolat terbaik yang punya kemampuan paling agresif dalam menghambat bakteri patogen (bakteri jahat).

Tak tanggung-tanggung, ketujuh isolat unggulan tersebut kemudian dibedah secara genetik menggunakan teknologi canggih whole genome sequencing (WGS), metabolomik berbasis UHPLC-HRMS, serta serangkaian pengujian karakter probiotik yang ketat.

Hasilnya memuaskan. Isolat-isolat elite tersebut sukses teridentifikasi sebagai spesies bakteri Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici.

Melalui pengujian laboratorium, bakteri yang diisolasi ini terbukti ampuh membendung serangan bakteri patogen berbahaya seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, hingga Pseudomonas aeruginosa.

Tidak hanya itu, bakteri probiotik ini menunjukkan taji luar biasa berupa aktivitas antikanker yang destruktif terhadap lini sel kanker kolon WiDr, dibarengi dengan kadar antioksidan yang sangat tinggi.

Kabar baiknya tidak berhenti sampai di situ. Tim peneliti juga menemukan adanya sinyal positif terkait kemampuan bakteri ini dalam membantu para penderita diabetes atau masalah metabolisme melalui makanan harian.

“Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat,” tambah Ema antusias.

Langkah ke depan, tim peneliti BRIN bersiap tancap gas melanjutkan riset ini ke tahap formulasi produk dan uji aplikasi pada pangan fermentasi maupun suplemen probiotik siap konsumsi.

Riset lanjutan berskala industri mutlak diperlukan guna memastikan faktor keamanan, stabilitas, dan efektivitas bakteri probiotik tersebut saat diproduksi massal kelak.

Inovasi membanggakan dari putra-putri bangsa ini pun telah diakui dunia internasional dengan resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Antonie van Leeuwenhoek serta International Microbiology. Selain itu, temuan ini juga telah sah mengantongi pendaftaran paten resmi dengan nomor S00202605018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *