banner 728x250

Imbas Kedelai Impor, Menkeu Buka-bukaan Alasan Harga Tahu-Tempe Terpaksa Naik

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

ABnnews – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa buka-bukaan mengenai alasan di balik lonjakan harga tahu dan tempe di pasaran yang belakangan ini dikeluhkan masyarakat.

Purbaya mengakui dirinya telah menerima langsung keluhan dari para pedagang dan produsen terpukul akibat meroketnya biaya produksi imbas ketergantungan pada bahan baku kedelai impor yang harganya terkerek melemahnya nilai tukar rupiah.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, Purbaya menyebut para pengrajin tahu dan tempe kini berada di posisi terjepit. Keuntungan mereka kian tergerus parah, sehingga menaikkan harga jual ke konsumen menjadi jalan terakhir yang terpaksa diambil demi menutup biaya operasional yang membengkak.

Kenaikan biaya produksi yang mencekik ini terjadi lantaran bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe, yakni kacang kedelai, mayoritas masih diperoleh melalui jalur impor menggunakan mata uang asing.

Sebagai catatan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau sudah ambyar menyentuh level Rp 18.036 hingga penutupan perdagangan, Jumat (5/6) kemarin.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor, yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka,” ungkap Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan persnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Merespons jeritan di akar rumput, Purbaya mengatakan bahwa saat ini otoritas fiskal dan moneter telah menyepakati berbagai langkah taktis untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Menurutnya, sinkronisasi kebijakan antara Kemenkeu dan Bank Indonesia (BI) diyakini mampu mendorong rupiah bergerak ke zona aman sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di level makro maupun mikro.

Melalui racikan kebijakan yang tengah digodok ini, pemerintah optimistis pergerakan harga-harga kebutuhan pokok di pasar dapat diredam, sehingga tidak memicu inflasi yang memberatkan masyarakat luas serta kaum ibu rumah tangga.

“Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu, tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi. Beban hidupnya secara, tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan,” jelasnya panjang lebar.

Lebih lanjut, Purbaya menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu berkecil hati karena fundamental ekonomi domestik saat ini sebenarnya masih berada dalam keadaan yang sangat baik dan resilien menghadapi tekanan global.

Ia pun menegaskan komitmennya untuk mempererat koordinasi dan menempel ketat Bank Indonesia (BI) agar kebijakan moneter dan fiskal dapat berjalan seiring sejalan.

Langkah ofensif ini diharapkan bisa langsung berdampak nyata pada pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus memulihkan kepercayaan para investor global terhadap mata uang garuda.

“Kita akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan,” pungkas Purbaya optimis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *