ABNnews – Langkah agresif Pemerintah Indonesia dalam menggencarkan pemanfaatan energi hijau kembali membuahkan hasil manis.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang dilaporkan sukses menarik minat besar dari jajaran investor asal Hungaria untuk menanamkan modal mereka di tanah air.
Keberhasilan sinergi internasional ini ditandai lewat penandatanganan dua nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) strategis di bidang energi hijau.
Prosesi tersebut digelar dalam forum bisnis bertajuk Indonesia’s New Economic Frontier: Investing in Batang Integrated Estate and Health Special Economic Zone yang berlangsung di Budapest, Hungaria.
Dua kesepahaman itu diikat antara PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), selaku badan usaha pembangun dan pengelola KEK Industropolis Batang, dengan dua korporasi asal Hungaria, yakni Merlion Tech Ltd dan Iconic Energi Kft. Kedua perusahaan Eropa tersebut bergerak di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, serta keberlanjutan lingkungan.
“Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, kami mengundang dunia usaha internasional tidak hanya untuk menyaksikan transformasi Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Edwin menegaskan bahwa Indonesia dan Hungaria memiliki potensi besar untuk membangun kemitraan strategis, khususnya di sektor kesehatan, farmasi, sains, hingga inovasi.
Terlebih, Hungaria tersohor sebagai salah satu pusat riset farmasi terkemuka di Eropa Tengah dan Timur, sementara Indonesia menawarkan skala pasar menjanjikan serta infrastruktur kompetitif jangka panjang.
Dalam forum tersebut, Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Agung Putu Ngurah Wirawan, memaparkan perkembangan signifikan dari kawasan yang ia pimpin. Hingga saat ini, KEK Batang tercatat telah mendulang total investasi fantastis mencapai 1,3 miliar dolar AS dan berhasil menyerap sekitar 11.000 tenaga kerja langsung.
Tingginya minat pemodal asing tecermin dari grafik penjualan lahan di KEK Batang yang diklaim melesat jauh melampaui rata-rata kawasan industri nasional.
“Pada 2024, penjualan lahan di KEK Industropolis Batang mencapai 104 hektare dan pada 2025 telah mencapai 97 hektare. Angka ini jauh di atas rata-rata penjualan kawasan industri pada umumnya yang hanya berkisar 15-20 hektare per tahun. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi dan daya saing KEK Industropolis Batang,” beber Agung.
Tak hanya menjajakan potensi emas di Batang, dalam misi diplomasi ekonomi tersebut pemerintah juga turut memperkenalkan sejumlah KEK sektor kesehatan andalan kepada komunitas bisnis Hungaria.
Mulai dari KEK Sanur, KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam, hingga KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten.
Melalui sesi business matching yang diwakili oleh Plt Kepala Biro Investasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Bambang Wijanarko, bergulir pula pembahasan mendalam terkait tata kelola manajemen air dan daur ulang air industri untuk mendukung kebutuhan kawasan di masa depan.
Selain itu, forum juga membidik peluang investasi properti residensial beserta fasilitas penunjang bagi para pekerja di KEK Batang, hingga penjajakan skema pendanaan bersama antara pemerintah Hungaria dan Indonesia untuk menyokong proyek-proyek strategis.
Sebelum forum puncak digelar, delegasi Indonesia tercatat telah melakukan gerilya pertemuan dengan Hungarian Export Promotion Agency (HEPA), Hungarian Chamber of Commerce and Industry (HCCI), serta Hungarian Water Partnership pada 20 Mei 2026 lalu.
Hasilnya, pihak Hungaria menunjukkan minat besar terhadap sektor pengelolaan air, energi hijau, teknologi digital, dan smart city. Bahkan, pihak HCCI mengusulkan agar KEK Industropolis Batang dijadikan sebagai proyek percontohan implementasi teknologi pengolahan air Hungaria di Indonesia.
Rangkaian promosi investasi ini dinilai berhasil memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Eropa Timur dan Tengah. Sebagai langkah konkret pasca-forum, Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK bersama PT KITB dan kementerian/lembaga terkait berkomitmen tancap gas mempercepat agenda business matching lanjutan, memfasilitasi kunjungan langsung investor ke Indonesia, serta mematangkan implementasi kerja sama investasi dan transfer teknologi.













