banner 728x250

Danantara Bentuk Holding Kawasan Industri BUMN, SCI: Langkah Strategis Dongkrak Daya Saing!

Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi

ABNnews – Badan Pengelola Investasi Danantara resmi membentuk holding kawasan industri BUMN baru yang dinamai Kawasan Industri Indonesia.

Langkah raksasa ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran sekaligus penyederhanaan tata kelola kawasan industri milik negara.

Rencana ini pun langsung mendapat takaran positif dari pelaku industri. Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai pembentukan holding tersebut merupakan langkah strategis pemerintah untuk mendongkrak daya saing kawasan industri nasional di kancah global. Namun, ia mewanti-wanti agar perusahaan induk baru ini tidak hanya berfokus pada urusan penguasaan lahan.

“Holding ini perlu diarahkan bukan hanya untuk mengonsolidasikan aset, lahan, dan utilitas dasar, tetapi juga untuk membangun ekosistem industri yang terintegrasi dengan layanan logistik, transportasi, pergudangan, dan konektivitas rantai pasok,” ungkap Setijadi kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).

Proses legal formal restrukturisasi kakap ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2026 ini. Dengan demikian, holding baru tersebut sudah bisa langsung masuk tahap operasional penuh pada tahun 2027 mendatang.

Langkah peleburan ini dinilai sangat mendesak jika berkaca pada skala masif kawasan industri di tanah air. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), saat ini terdapat 175 kawasan industri yang telah mengantongi Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI) dengan total luas bentangan lahan mencapai 98.235,5 hektare dan tingkat okupansi sebesar 58,19 persen.

Sektor padat modal ini tercatat menampung sebanyak 11.970 perusahaan, menyerap sedikitnya 2,35 juta tenaga kerja, serta berhasil menghimpun total nilai investasi fantastis hingga Rp 6.744,5 triliun.

Sebelum restrukturisasi terbaru ini digulirkan, sejumlah kawasan industri BUMN berada dalam ekosistem Danareksa Industrial Park. Mulai dari PT Kawasan Industri Medan, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung, PT Surabaya Industrial Estate Rungkut, PT Kawasan Industri Makassar, PT Kawasan Industri Wijayakusuma, hingga PT Kawasan Industri Terpadu Batang, dengan total luas lahan konsolidasi mencapai 7.855 hektar.

Setijadi memaparkan, pembentukan holding ini akan memberikan efek domino positif yang terbagi dalam tiga level:

* Bagi Perusahaan Anggota Holding: Memperkuat skala ekonomi, standardisasi tata kelola, integrasi investasi, optimalisasi aset, dan memicu model bisnis baru di luar sekadar jual-sewa lahan.


* Bagi Perusahaan Pengguna (Tenant): Meningkatkan kualitas layanan, mempercepat penyediaan infrastruktur, memperkuat konektivitas, serta memangkas biaya logistik melalui fasilitas bersama.


* Bagi Ekonomi Nasional: Memperkuat peran kawasan industri sebagai simpul produksi, konsolidasi barang, distribusi, ekspor, serta integrasi rantai pasok nasional maupun global.

Efisiensi sektor logistik memang menjadi isu krusial yang terus dikejar pemerintah karena berkontribusi langsung terhadap harga produk.

Data Bappenas mencatat biaya logistik domestik masih berada di angka 14,1 persen dari harga barang, sementara biaya logistik ekspor bertengger di angka 8,98 persen.

Untuk menekan angka tersebut, SCI merekomendasikan agar holding Kawasan Industri Indonesia segera menyusun masterplan logistics park di kawasan-kawasan prioritas.

Holding baru ini didorong untuk menetapkan standar layanan logistik kawasan, mengembangkan fasilitas pergudangan bersama, cross-docking, depo peti kemas, terminal truk, cold storage, hingga layanan kepabeanan satu atap.

Tak kalah penting, interkoneksi transportasi multimoda juga harus dirancang terintegrasi. Hubungan kawasan dengan jalan tol, pelabuhan, bandara kargo, hingga pemanfaatan jalur kereta api logistik dinilai mendesak demi mengurangi ketergantungan pada truk jarak jauh dan menekan kemacetan.

“Holding juga perlu mendorong digitalisasi arus kendaraan melalui truck appointment system, gate automation, dan control tower kawasan. Dengan pendekatan tersebut, holding kawasan industri BUMN dapat mengembangkan kawasan industri sebagai simpul produksi sekaligus simpul logistik nasional yang kompetitif,” pungkas Setijadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *