banner 728x250

Manufaktur RI Tumbuh 5,04%, Diam-diam Menperin Siapkan Senjata Baru Bareng Swiss!

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Kemenperin)

ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus tancap gas memperkuat pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) industri.

Langkah strategis ini diambil guna mendongkrak daya saing sektor manufaktur nasional di tengah dinamika pasar global yang kian sengit dan kompetitif.

Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat sistem pendidikan vokasi berbasis industri. Dengan begitu, para lulusan yang dihasilkan diklaim bakal jauh lebih adaptif dan langsung match dengan kebutuhan riil dunia usaha saat ini.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, sektor industri manufaktur sejauh ini tetap menjadi tulang punggung utama perekonomian nasional dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Buruto (PDB).

Ketangguhan sektor ini dibuktikan lewat angka-angka performa yang ciamik. Industri pengolahan tercatat menyumbang sebesar 19,07 persen terhadap PDB nasional pada triwulan I-2026.

Sektor ini juga melonjak tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y) sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 1,03 persen.

“Pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur nasional. Salah satu kuncinya adalah menyiapkan SDM industri yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut Agus, efisiensi produksi dan penguasaan teknologi modern mutlak diperlukan untuk memenangkan persaingan internasional. Semua itu baru bisa terwujud jika disokong oleh tenaga kerja terampil.

Oleh sebab itu, Kemenperin getol memperkuat unit-unit pendidikan vokasi di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) yang tersebar di seantero Indonesia.

Sebagai aksi nyata, BPSDMI aktif menjalin kerja sama lintas sektor, baik di dalam maupun luar negeri. Kemenperin menggandeng Pemerintah Swiss, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mensosialisasikan aplikasi pintar bernama Industrial-Based Curriculum (IBC), Jumat (8/5).

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan, aplikasi IBC dirancang khusus untuk memotong jalur birokrasi dan mempermudah sinkronisasi antara dunia pendidikan dan dunia industri.

“Aplikasi IBC ini memudahkan unit pendidikan vokasi dalam perencanaan dan pengelolaan kegiatan kurikulum berbasis industri secara terintegrasi. Mulai dari penyiapan data, pemantauan proses, hingga dokumentasi hasil Job Occupational Analysis (JoA) Chart,” urai Doddy.

Lewat sistem digital ini, pihak industri bisa lebih fleksibel memberikan masukan, validasi, hingga review kurikulum secara terstruktur.

Senada, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari berharap aplikasi ini bisa dioptimalkan agar penyusunan kurikulum berjalan efektif, efisien, dan berdampak nyata di lapangan.

Sementara itu, Program Manager Swisscontact Daniel Weibel menilai, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah tingginya angka kesenjangan (gap) antara materi sekolah dan kebutuhan nyata di lapangan kerja.

“IBC secara langsung menjawab tantangan tersebut dengan menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri yang sesungguhnya. Kurikulum ini memastikan lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga benar-benar siap kerja,” tegas Daniel.

Sebagai informasi, kerja sama erat antara Pemerintah Swiss dan Indonesia ini sudah dirajut sejak tahun 2018 melalui proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C). Bermula dari metode Developing a Curriculum (DACUM), kerja sama ini berevolusi menjadi IBC.

Hingga kuartal kedua 2026, kolaborasi ini sukses menelurkan 79 JoA Chart dari berbagai sektor kementerian, dan jumlahnya dipastikan akan terus bertambah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *