ABNnews – Nasib kurang enak menimpa Rizal Nurdimansyah (39), seorang guru honorer SMP asal Winduherang, Kabupaten Kuningan. Bagaimana tidak? Namanya tiba-tiba terdaftar sebagai pembeli mobil mewah Ferrari 458 Speciale Aperta dengan nilai transaksi yang bikin melongo: Rp 4,2 miliar!
Merasa ada yang nggak beres, Rizal pun langsung gercep melapor ke polisi karena merasa identitasnya dicatut oknum nggak bertanggung jawab.
Cerita bermula pada 2 April 2026 lalu, saat Rizal mendadak ditelepon nomor tak dikenal. Si penelepon merayu ingin meminjam data pribadi Rizal buat keperluan bosnya beli mobil.
Meski sudah ditolak mentah-mentah, si penelepon pantang menyerah dan kembali menghubungi 14 menit kemudian dengan iming-iming uang Rp 5 juta.
“Waktu tanggal 2 April tuh ada yang menelepon, ngakunya dari Ciawigebang, mau pinjam data kayak KTP. Nanti dikasih iming-iming uang Rp 5 juta. Tapi saya tetap tolak,” tutur Rizal, dilansir detikcom, Kamis (16/4/2026).
Awalnya Rizal mengira urusan itu sudah selesai. Tapi siapa sangka, pada Senin (13/4/2026), pihak desa memberinya kabar mengejutkan kalau namanya sudah terdaftar punya Ferrari. Antara percaya dan nggak, Rizal akhirnya mengecek langsung ke kantor Samsat keesokan harinya.
“Pas dicek di Samsat hari tanggal 14-nya, benar ada data saya. Data pembelian, data pajak untuk bayar pajak. Harganya sekitar Rp 4,2 miliar,” ucap Rizal dengan nada heran.
Sadar kalau gaji guru honorer nggak mungkin cukup buat beli ‘kuda jingkrak’ tersebut, pihak Samsat pun menyarankan Rizal buat langsung memblokir data kendaraan tersebut lewat aplikasi resmi menggunakan face recognition.
Rizal pun nggak tinggal diam dan memilih lapor ke Polres Kuningan demi perlindungan hukum.
“Saya kan cuma guru honorer di SMP. Jadi buat laporan ke kepolisian supaya ada perlindungan diri. Takutnya nanti disuruh bayar apa-apa terkait pembelian mobil itu,” tambahnya.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Kuningan Iptu Abdul Aziz mengonfirmasi kalau pihaknya sudah menerima laporan Rizal. Kini, polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam buat mengungkap siapa aktor intelektual di balik pencatutan identitas guru honorer ini.













