ABNnews – Indonesia dan Rusia kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat otot ekonomi bilateral. Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian RI, Edi Prio Pambudi, bersama Deputi Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, Vladimir Illichev, resmi menandatangani Protokol Pertemuan ke-7 Working Group on Trade, Investment, and Industry (WGTII) RI-Rusia, Kamis (9/4/2026).
Dokumen penting ini nggak cuma sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi jadi acuan bersama buat mengimplementasikan hasil pembahasan teknis agar kerja sama kedua negara makin efektif, berkelanjutan, dan nggak sekadar wacana.
Sawit, Pupuk, hingga Farmasi Jadi Prioritas
Isi protokol ini ternyata daging semua! Cakupannya luas banget, mulai dari penguatan perdagangan dan investasi, hingga sektor energi baru terbarukan. Urusan “perut” dan industri berat juga nggak ketinggalan, seperti perikanan, pupuk, minyak kelapa sawit, hingga sektor farmasi, kesehatan, metalurgi, kimia, penerbangan, dan infrastruktur.
Bahkan, kedua negara juga setuju buat tancap gas di bidang logistik, kawasan ekonomi khusus, ekonomi kreatif, sampai isu lingkungan hidup dan perubahan iklim.
Deputi Edi Pambudi berharap momentum positif ini bisa langsung “gas pol” diterjemahkan ke dalam hasil nyata melalui penguatan kerja sama teknis. Ia ingin inisiatif yang sudah berjalan segera dipercepat agar proyek-proyek prioritas bisa segera implementatif.
“Melalui penandatanganan Protokol Pertemuan ke-7 WGTII RI-Rusia ini, kedua negara menegaskan kembali komitmen untuk terus memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk melalui peningkatan akses pasar, investasi, serta pengembangan industri bernilai tambah,” pungkas Edi dalam keterangannya.
Langkah ini juga jadi upaya RI buat memastikan setiap kerja sama teknis yang dibahas bisa memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi kedua belah pihak.













