banner 728x250

Banjir Impor Bikin Industri Keramik RI Terseok, Menperin: Ketua ASAKI Sampai Ngangguk Terus!

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka pameran Ceramic Tableware dan Glassware Twinfest 2025 di Jakarta, Kamis (11/12).

ABNnews – Industri keramik dan kaca nasional kembali menjadi sorotan menjelang berakhirnya tahun 2025. Pasalnya, tingkat utilisasi sektor tableware dan glassware masih tergolong rendah akibat derasnya produk impor yang membanjiri pasar domestik.

Kondisi ini membuat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan perlunya langkah strategis untuk menjaga daya saing dan memaksimalkan kapasitas industri dalam negeri.

“Kedua subsektor ini punya struktur industri yang kuat, didukung sumber daya lokal, dan peluang pasar yang terus tumbuh,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka pameran Ceramic Tableware dan Glassware Twinfest 2025 di Jakarta, Kamis (11/12).

Sepanjang 2024, industri ceramic tableware memiliki kapasitas terpasang 250 ribu ton, namun utilisasinya baru mencapai 52%. Agus menilai rendahnya utilisasi ini tidak lepas dari derasnya produk impor yang terus masuk ke pasar lokal.

“Saya lihat Ketua ASAKI terus mengangguk saat saya menyinggung banjir impor, artinya masalah ini memang nyata mengganggu industri dalam negeri,” ucapnya.

Meski begitu, pangsa pasar domestik sektor tableware mencapai 78%, capaian yang dinilai positif. Namun tingkat konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih rendah sehingga pangsa pasar itu tetap perlu dijaga agar semakin banyak rumah tangga menggunakan produk lokal.

Di sisi lain, subsektor glassware juga menghadapi persoalan serupa. Dari kapasitas produksi 740 ribu ton per tahun, utilisasinya baru 51% dengan pangsa pasar domestik sekitar 65%. Sepanjang 2024, ekspor sektor ini mencapai USD 97 juta atau 128 ribu ton, dengan tujuan utama Filipina, Brasil, dan Vietnam.

“Permintaan pasar domestik dan ekspor terus tumbuh. Artinya prospek industri keramik dan kaca nasional sangat besar. Tapi kita tetap harus waspada terhadap lonjakan impor,” tegas Agus.

Untuk memperkuat industri, Kemenperin menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, seperti penerapan SNI wajib pada produk keramik, harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) USD 7 per MMBTU, sertifikasi Produk Halal sesuai PP 42/2024 serta program P3DN untuk meningkatkan penggunaan produk lokal.


Agus juga menyoroti temuan masuknya produk impor ilegal yang tidak ber-SNI. “Ini bukan hanya keramik. Produk kabel impor tidak ber-SNI saja bisa masuk ke meja pemerintah,” tegasnya. Ia meminta pelaku industri proaktif melaporkan pelanggaran agar pemerintah bisa menindak.

Menperin turut mendorong industri keramik dan kaca mengadopsi teknologi terbaru, meningkatkan riset produk, dan memperkuat inovasi desain untuk menopang transformasi manufaktur.

Pihaknya juga menuturkan bahwa industri ini menjadi bagian dari peta jalan Making Indonesia 4.0, melalui empat langkah: efisiensi produksi, penerapan green technology, digitalisasi pabrik, dan inovasi desain orisinal yang mengangkat identitas Indonesia.

Menutup sambutan, Agus mengapresiasi ASAKI, APGI, dan seluruh peserta pameran. “Semoga Twinfest 2025 menjadi wadah promosi, kolaborasi, dan inovasi. Tahun ini kita mengangkat tema: Elegansi Lestari, Pesona Global,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *