ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat rekor tertinggi pendaftar siswa baru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) binaannya. Animo masyarakat terhadap pendidikan vokasi industri ini melonjak drastis, mencapai rasio pendaftar terhadap daya tampung 1:10,7 pada tahun 2025.
Peningkatan drastis ini mencerminkan tingginya kepercayaan publik. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut capaian ini adalah indikator positif dari keberhasilan transformasi pendidikan vokasi yang dilakukan secara konsisten oleh Kemenperin.
“Pendidikan vokasi merupakan tulang punggung dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, siap kerja, dan berdaya saing global,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/10).
Agus menegaskan, Kemenperin akan terus memperkuat sinergi dengan dunia usaha dan dunia industri agar lulusan SMK binaan Kemenperin benar-benar siap pakai dan berdaya saing tinggi.
28 Ribu Pendaftar Serbu 9 SMK Kemenperin
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin mencatat kenaikan minat lebih dari 10 persen dari tahun sebelumnya. Total, sebanyak 28.869 calon peserta didik mendaftar di sembilan SMK binaan Kemenperin yang tersebar di berbagai daerah.
Proses penerimaan dilakukan melalui tiga jalur utama dalam skema Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS), yaitu:
1. JARVIS Prestasi (seleksi berdasarkan nilai rapor).
2. JARVIS Bersama (seleksi nasional serentak).
3. JARVIS Mandiri (seleksi melalui tes).
Kunci Lulusan Langsung Diserap Industri
Kepala BPSDMI, Masrokhan, mengungkapkan rahasia di balik tingginya antusiasme ini adalah kualitas kurikulum dan praktik kerja yang ketat.
“SMK di bawah Kemenperin menerapkan sistem pendidikan ganda yang memungkinkan siswa untuk magang di industri selama satu tahun penuh. Program ini memperkuat konsep link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan nyata dunia industri,” jelas Masrokhan.
Selain magang wajib setahun, Kemenperin juga mendorong kolaborasi langsung dengan industri untuk membuka kelas industri. Tujuannya adalah memastikan lulusan memiliki keterampilan sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja.
“Kami ingin memastikan setiap lulusan tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga etos kerja dan karakter industri,” ujarnya.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri Kemenperin, Wulan Aprilianti Permatasari, menutup dengan optimisme. Ia menuturkan, peningkatan animo ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan vokasi kini menjadi pilihan utama generasi muda yang ingin langsung berkontribusi pada pembangunan sektor industri nasional.













