ABNnews — Dunia dihebohkan dengan aksi penembakan CEO UnitedHealthcarelui (UHC), Brian Thompson, di luar hotel Hilton di Midtown Manhattan, New York City, Amerika Serikat, Rabu (04/12) lalu.
Selang lima hari kemudian, Departemen Kepolisian New York (NYPD) menangkap pelaku yang diidentifikasi sebagai Luigi Mangione (26) sebagai tersangka penembakan Brian Thompson. Mangione ditangkap di sebuah restoran cepat saji di kawasan Altoona, Pennsylvania, Senin (09/12).
Polisi bergerak cepat setelah menerima laporan dari salah satu pekerja di restoran yang mengenali Mangione sebagai tersangka pembunuhan Brian Thompson, tengah berada di restoran.
Menurut polisi, Mangione memiliki “ghost gun“, senjata api yang tidak dapat dilacak dan dapat dirakit di rumah menggunakan peralatan, yang kemungkinan dibuat dengan printer 3D. Senjata itu juga memiliki peredam.
Mangione pun membawa beberapa tanda pengenal, termasuk paspor AS, kartu identitas aslinya, dan kartu identitas palsu. Tanda pengenal ini dia gunakan untuk check-in di sebuah hostel di Kota New York, tempat dia terlihat sebelum pembunuhan Thompson.
Polisi juga mengatakan dokumen tulisan tangan, yang disebut-sebut sebagai “manifesto tiga halaman”, ditemukan saat menangkap Mangione. Dalam dokumen tersebut, ia mengkritik keras sistem perawatan kesehatan AS.
Mangione menyebutnya sebagai sistem termahal di dunia namun tidak efektif. Hal ini merujuk pada peringkat rendah, ke-42, harapan hidup negara itu. Selain itu, bukti lainnya tentu merujuk pada senjata dan barang yang ditemukan saat penangkapan.
Adapun motif yang diduga kuat menjadi alasan penembakan berdasar catatan tersebut adalah kebencian Mangione terhadap korporasi asuransi, yang disebutnya sebagai “mafia korporasi” yang “menyalahgunakan Amerika untuk keuntungan besar.”
Dalam selongsong peluru yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP), tertera kata “deny“, “defend” dan “depose“, yang bermakna “tolak”, “pertahankan” dan “jatuhkan”, yang oleh para penyidik disebut merujuk pada taktik yang digunakan perusahaan asuransi untuk menghindari pembayaran klaim nasabah dan meningkatkan keuntungan.
Mangione didakwa atas lima tuduhan termasuk pemalsuan dan membawa senjata api tanpa izin. Jaksa penuntut mengatakan, dakwaan pembunuhan akan segera diajukan terhadap Mangione.
Meski sudah ditangkap karena aksi pembunuhan, banyak warga AS yang malah bersimpati terhadap Mangione. Warga AS bersimpati kepada Mangione lantaran ia mengkritik sistem pelayanan kesehatan di AS.
Aksi Mangione tersebut seolah menjadi ‘wake-up call‘ atau alarm untuk kembali menyadarkan warga AS betapa sistem layanan kesehatan di AS amat mencekik terutama di kalangan menengah bawah.
Warga AS merasa suara mereka akan kebobrokan sistem pelayanan kesehatan di negaranya terwakilkan oleh Mangione dalam kritik tersebut. Sebab, sistem pelayanan kesehatan di AS selama ini memang dianggap kurang baik.
Oleh karena itu, warga AS tetap bersimpati kepada Mangione meski dirinya saat ini sudah ditangkap polisi karena kasus pembunuhan.
Isu lama dan menahun itu terkait dengan mahal dan sulitnya mendapatkan layanan kesehatan di Amerika Serikat, salah satu negara terkaya di dunia.
Karena begitu mahal ”harga” asuransi kesehatan di negeri itu, menurut laporan Associated Press, ada 46 juta warga perdesaan AS kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.
Berdasarkan analisis Pusat Kualitas Layanan Sosial dan Reformasi Pembayaran di AS pada Juli 2024, sekitar 700 dari 2.100 rumah sakit wilayah perdesaan AS terancam tutup karena kesulitan keuangan. Antrean dan waktu tunggu mendapat layanan kesehatan pun menjadi masalah.
*Dari berbagai sumber












