ABNnews – Raksasa teknologi dunia, NVIDIA, tengah menjajaki rencana investasi jumbo senilai USD 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,1 triliun di kawasan Batam.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, potensi investasi besar ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjadikan ekonomi digital sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekonomi digital diproyeksikan menjadi andalan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0% pada 2027, berbekal capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,45% (c-to-c) pada Semester I 2026.
Menko Airlangga menjelaskan, untuk mencapai target pertumbuhan 6,0% dan inflasi 2,5% di tahun 2027, dibutuhkan tiga prasyarat utama: pertumbuhan investasi yang melampaui Produk Domestik Bruto (PDB), peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta penguatan ekspor bernilai tambah. Investasi sendiri ditargetkan tumbuh 8% hingga 9% dengan nilai penanaman modal mencapai Rp 2.258 triliun.
“Ekonomi digital menjadi mesin pertumbuhan yang terukur,” ujar Airlangga.
Nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) ekonomi digital Indonesia mendekati USD 100 miliar pada 2025, naik 14% dari tahun sebelumnya. Pengguna QRIS bahkan telah menembus 65,77 juta jiwa dengan dukungan 44,86 juta merchant.
Guna memperkuat ekosistem digital terpadu, pemerintah fokus pada pengembangan talenta digital berkualitas, riset semikonduktor, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga infrastruktur pusat data (data center).
Sektor infrastruktur pusat data menjadi daya tarik utama arus modal asing. Airlangga menyebut kapasitas pusat data yang saat ini beroperasi mencapai 600–700 megawatt, dengan proyek dalam pipeline mencapai 1,3 gigawatt dan estimasi nilai investasi USD 15–20 miliar.
Dalam kerangka itulah NVIDIA masuk memetakan potensi investasi Rp 80,1 triliun di KPBPB/FTZ Batam, yang saat ini proses komunikasinya terus berjalan intensif.
Di tingkat regional, Indonesia juga baru saja menuntaskan perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang siap ditandatangani pada KTT ASEAN di Filipina, November 2026. Implementasi DEFA diproyeksikan meledakkan nilai ekonomi digital ASEAN dari USD 1 triliun menjadi USD 2 triliun pada 2030.
Pesatnya transaksi digital yang dicatat Bank Indonesia mencapai 12,99 miliar transaksi pada Triwulan III 2025 (tumbuh 38,08% yoy) turut diimbangi dengan sistem keamanan canggih.
Pemerintah melalui BSSN membentuk Gugus Tugas Nasional Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum (Post-Quantum Cryptography/PQC). Langkah ini diambil untuk membentengi data terenkripsi dari potensi ancaman peretasan Harvest Now, Decrypt Later (HNDL) menggunakan komputer kuantum di masa depan.
Sementara itu di sektor perdagangan online, pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh di atas 14% menjadi USD 71 miliar, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara.
Transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada akhir 2026 pun ditargetkan menembus Rp 40 triliun.
Selain itu, kerja sama internasional bidang AI melalui World AI Collaboration Organization (WAICO) diperkirakan mampu menarik investasi sebesar USD 8–12 miliar sepanjang 2026–2030.
Airlangga menekankan bahwa keberhasilan mewujudkan target-target raksasa ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.












