ABNnews – Momen penuh kehangatan dan gelak tawa mewarnai acara peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (15/9/2026).
Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal melontarkan sederet guyonan segar saat menyampaikan pidato sambutan di depan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari ucapan ‘Sorry Yee’, sindiran soal ‘cari muka’, hingga kelakar soal gelar ‘Aswabi’.
Di hadapan Presiden Prabowo dan ribuan hadirin, Kiai Hasan menegaskan komitmen Gontor yang sejak awal memilih jalur pendidikan untuk membangun bangsa.
“Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya… Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee,” pangkas Kiai Hasan yang disambut senyum hadirin.
Kiai Hasan kemudian mengutip pesan bersejarah Presiden Soekarno tentang ‘Jasmerah’ (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Namun baginya, Gontor tidak hanya ingin berhenti pada mempelajari sejarah, tetapi juga turut aktif mengukir sejarah baru.
“Dulu Bapak Presiden Soekarno, Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, ‘Bergurulah pada Sejarah’. Gontor tidak puas. Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Hasan menceritakan momen penantian kedatangan Prabowo ke Kampus Gontor yang telah dipikirkannya sejak lama.
“Sejak Pak Prabowo ngomong sama saya September, September, September. Otak saya, Pak Prabowo, Pak Prabowo. Andaikata Pak Prabowo hari ini enggak datang, hah ini, muka saya, saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka,” tuturnya polos yang langsung memicu riuh tawa hadirin.
Kiai Hasan lantas melanjutkan guyonannya mengenai fenomena masyarakat yang gemar ‘mencari’ sesuatu.
“Sekarang banyak orang yang cari muka, betul? Orang ndak punya ijazah, cari ijazah. Orang ndak punya nama, cari nama. Orang ndak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang ndak punya muka, cari muka,” ucapnya.
“Lo, kok tepuk tangan? Tepuk tangan tidak pada waktunya, sorry, sorry,” seloroh Kiai Hasan kembali memancing gelak tawa.
Tak hanya humor, Kiai Hasan menegaskan bahwa Gontor sejak berdiri senantiasa menjadi wadah perekat persatuan umat. Santri dari latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah belajar bersama di Gontor tanpa kehilangan identitasnya.
“Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, Islam, ihsan sesuai dengan ijtihad para pendiri. Sehingga Gontor ini dari NU masuk sini, keluar NU lagi. Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi,” jelasnya.
Ia bahkan berseloroh mengenai latar belakang keluarganya yang sangat cair. Walau sempat dicap memiliki kecenderungan Muhammadiyah, seluruh menantunya justru berlatar belakang NU.
“Saya ini orang bebas. Orang bilang Muhammadiyah agak Wahabi dikit katanya. Tapi menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya saya mendapat titel baru, Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi,” selorohnya.
Ia menegaskan komitmen PMDG mendidik dan memerdekakan umat serta bangsa dari ketergantungan melalui jalur pendidikan.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya menyampaikan rasa kagum dan meminta seluruh santri serta santriwati Gontor untuk bersiap meneruskan tongkat estafet kepemimpinan nasional.
“Kalian lah yang akan mengambil alih. Kalian yang akan meneruskan perjuangan kita,” ujar Prabowo.
Prabowo berpesan agar para santri terus memegang teguh nilai-nilai luhur serta karakter yang telah ditanamkan oleh para pendiri Gontor.
“Teruskan panggilan sejarah. Teruskan perjuanganmu. Berbuat yang terbaik untuk bangsa dan umat,” pangkas Prabowo mengapresiasi perjalanan satu abad pondok pesantren tersebut.












