ABNnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyentil pola kerja sama kawasan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) agar tidak terjebak dalam rutinitas rapat semata namun lambat dalam hal eksekusi.
Memimpin Pertemuan Tingkat Menteri ke-32 (32nd IMT-GT MM) di Medan, Airlangga menuntut langkah nyata agar 92 proyek yang sedang berjalan segera diselesaikan.
“Selama lebih dari tiga dekade, IMT-GT tidak pernah kekurangan rencana yang baik. Namun, yang ditunggu masyarakat kita adalah implementasi. Setiap inisiatif harus bergerak dari perencanaan ke eksekusi, dari dokumen ke koridor ekonomi, dan dari penandatanganan menjadi lapangan kerja nyata,” tegas Menko Airlangga di Medan, Sumatra Utara, Kamis (10/9/2026).
Merespons hal tersebut, Airlangga secara tegas meminta agar gelaran di Medan dicatat sebagai Ministerial Meeting of Implementation. Keberhasilan forum ini tidak lagi dinilai dari seberapa tebal dokumen yang dihasilkan, melainkan dari jumlah proyek yang benar-benar terealisasi di lapangan.
Kendati demikian, para menteri dari ketiga negara mengapresiasi capaian Implementation Blueprint 2022–2026 yang berhasil melampaui target. Berdasarkan data ekonomi, PDB per kapita di wilayah koridor IMT-GT tumbuh dari 21.646 PPP$pada 2024 menjadi 23.290 PPP$ pada 2025.
Nilai perdagangan barang juga melonjak dari USD 708 miliar menjadi USD 810,8 miliar, didukung kenaikan investasi asing langsung (FDI) dari USD 27,52 miliar menjadi USD 28,44 miliar.
Sementara itu, tingkat pengangguran berhasil ditekan dari 3,8% menjadi 3,7%, serta sektor pariwisata sukses menyedot 68 juta wisatawan mancanegara sepanjang tahun lalu lewat kampanye Visit IMT-GT Year 2023-2025.
Langkah eksekusi nyata ditunjukkan dalam ajang IMT-GT International Business Matching 2026 yang mempertemukan 275 pelaku usaha dari 7 sektor strategis, mulai dari agribisnis, manufaktur, pariwisata, logistik, hingga kesehatan.
Dari ajang bisnis tersebut, sebanyak 8 Nota Kesepahaman (MoU) bisnis lintas negara resmi ditandatangani. Hasil ini melengkapi kesuksesan Business Matching RoRo Dumai-Melaka sebelumnya yang menelurkan 6 MoU, membuktikan bahwa forum ini tidak sebatas wacana kebijakan tetapi menghasilkan kerja sama konkret yang siap dijalankan pengusaha.
Di meja negosiasi yang sama, ketiga negara turut menandatangani MoU Kerja Sama Kelapa Sawit IMT-GT untuk memperkuat posisi tawar Indonesia, Malaysia, dan Thailand di pasar global.
Sinergi produksi beras juga diserukan untuk memperkokoh ketahanan pangan kawasan dari ancaman krisis rantai pasok global.
Menyoroti hasil Forum Kepala Daerah (Chief Ministers and Governors Forum/CMGF) ke-23, Airlangga mengingatkan agar tak ada lagi proyek yang dibangun secara terisolasi, melainkan terintegrasi dalam satu koridor ekonomi.
“Proyek pembangunan tidak dibangun di dalam ruang rapat para Menteri. Kami para Menteri bertugas menyetujui rencana, namun para Gubernur atau Kepala Daerah adalah yang mengeksekusinya di lapangan. Oleh karena itu, pemberdayaan Pemerintah Daerah adalah inti dari kerja sama IMT-GT,” ujar Airlangga.
Pertemuan ke-32 ini resmi mengesahkan Pernyataan Bersama Para Menteri (Joint Ministerial Statement) sekaligus mengarahkan penyusunan Implementation Blueprint 2027-2031 berbasis Ketahanan Ekonomi, Jaringan Terintegrasi, dan Kesejahteraan Bersama menuju Visi IMT-GT 2036. Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-33 dijadwalkan bakal berlangsung di Malaysia pada 2027 mendatang.












