ABNnews – Langkah PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menggenjot penggunaan biomassa tak hanya sekadar memangkas penggunaan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pengembangan ekosistem biomassa ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah fantastis, yakni hingga 750 ribu orang di berbagai daerah.
Potensi serapan tenaga kerja tersebut dibeberkan oleh Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam Panel Discussion #1: Driving Sustainable Forest Development through Biomass and Resilient Forest Management, bagian dari Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Forestry Industry Session di Park Hyatt Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Hokkop memperkirakan, jika target pemanfaatan biomassa nasional dapat didorong hingga menyentuh skala 8 juta ton per tahun, maka rantai pasok dari hulu ke hilir akan menyerap banyak tenaga kerja secara masif.
“Ini berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 750 ribu orang, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, transportasi dan logistik, hingga aktivitas pendukung lainnya. Kami sudah menyampaikan ini kepada Kementerian Tenaga Kerja di Indonesia,” ujar Hokkop.
Saat ini, PLN EPI sendiri telah melibatkan sekitar 140 perusahaan dalam jaringan ekosistem biomassa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam skala operasional PLN, pemanfaatan biomassa terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Jika pada tahun lalu penyerapan biomassa baru menyentuh angka 2,5 juta ton, maka pada tahun ini PLN EPI mematok target peningkatan hingga 3,4 juta ton.
“Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini kami akan mencapai sekitar 3,4 juta ton biomassa untuk disediakan kepada seluruh perusahaan kami,” jelas Hokkop.
Ia menegaskan, kendati skala penggunaan di PLN saat ini berada di angka 2,5 juta ton, PLN tercatat sebagai korporasi terbesar di Asia yang berhasil mengimplementasikan metode co-firing atau pencampuran biomassa pada PLTU.
Secara nasional, potensi biomassa dari sektor industri di Indonesia diproyeksikan mencapai 80 juta ton per tahun. Dari total potensi raksasa tersebut, baru sekitar 20 juta ton yang dimanfaatkan, sehingga masih tersisa sekitar 60 juta ton potensi biomassa darat yang belum tergarap optimal. Angka ini bahkan belum memperhitungkan potensi dari sampah rumah tangga maupun biomassa berbasis air.
Hokkop menggarisbawahi bahwa penambahan volume biomassa wajib memegang teguh prinsip keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Saat ini, sekitar 70 persen biomassa yang dipasok ke PLN berasal dari material residu atau limbah industri kehutanan, pabrik kertas, dan sektor agrobisnis.
Guna memastikan seluruh rantai pasok memenuhi kaidah lingkungan yang ketat, PLN EPI menerapkan evaluasi mendalam menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) bagi setiap mitra penyedia.
“Kami sudah membuat kalkulasi menggunakan LCA. Kami memilih partner dengan meminta mereka memenuhi semua data dari sumber biomassa. Kami anti deforestasi,” tegas Hokkop.
Melalui pendekatan ekosistem dari hulu ke hilir ini, pemanfaatan biomassa diharapkan mampu menjadi jembatan antara percepatan transisi energi bersih, penguatan industri dalam negeri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.












