Plus-Minus Stasiun Karet Terintegrasi ke BNI City: Gedung Megah tapi Akses Tangga Bikin Gempor

Antrean penumpang di Stasiun BNI City pada hari pertama integrasi dengan Stasiun Karet, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026) pagi(KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)

ABNnews – Kebijakan integrasi Stasiun KRL Commuter Line Karet ke Stasiun BNI City per Selasa (1/9/2026) mendulang beragam catatan pro dan kontra dari para penggunanya.

Di satu sisi, penumpang menikmati fasilitas fisik gedung baru yang terhitung mewah, namun di sisi lain, akses tangga manual yang harus ditapaki membuat fisik para pengguna anker (anak kereta) ‘gempor’.

Penutupan Stasiun Karet sejatinya dapat dimaklumi oleh sejumlah penumpang. Arifin (29), salah satu pengguna KRL, menyebut kondisi fisik Stasiun Karet yang lama memang sudah tidak ideal dan terlalu sempit untuk menampung kepadatan penumpang di jam sibuk.

“Sebenernya sih enggak apa-apa. Enggak masalah sebetulnya, cuma emang belum terbiasa aja dan jadi lebih jauh dikit. Karet juga emang harusnya tuh diperbaiki memang, apalagi banyak yang turun di sana,” ujar Arifin seperti dikutip dari kompascom, Selasa (1/9/2026).

Senada dengan Arifin, Alfa (26) memuji jajaran fasilitas di Stasiun BNI City yang diakui jauh lebih nyaman dibanding stasiun komuter pada umumnya.

“Di atas aja ada kursi pijat, tempat nge-charge banyak karena tempat kereta Bandara, tapi aksesnya aja sih PR-nya,” kata Alfa.

Selain itu, Faiz (30) menilai penutupan Stasiun Karet berdampak positif untuk mengurai kemacetan kronis di pelintasan sebidang Jalan KH Mas Mansyur, sekaligus menekan risiko insiden kecelakaanseperti peristiwa taksi listrik tersambar KRL akibat menerobos perlintasan pada Senin (24/8/2026) lalu.

Dibalik megahnya arsitektur Stasiun BNI City, kelemahan utama langsung dirasakan pada fasilitas aksesibilitas keluar-masuk stasiun menuju Jalan KH Mas Mansyur.

Ketiadaan fasilitas eskalator serta terbatasnya kapasitas lift prioritas memaksa para penumpang mengandalkan tangga manual.

Kondisi paling dirasakan oleh penumpang yang tiba dari Peron 1 arah Manggarai, yang diwajibkan naik-turun peron dan memutar ke peron 2 hanya untuk menuju pintu keluar.

“Kalau dari peron 1 itu harus naik dulu ke atas, terus turun lagi keluarnya di deket peron 2, jadinya naik turun, itu aja sih kesusahannya,” ungkap Kirana, penumpang asal Pasar Minggu.

“Pegel sih lumayan ya, apalagi pagi-pagi berangkat kerja, lebih keringetan,” keluhnya.

Kirana menambahkan, jarak tempuh berjalan kaki menuju area kantornya kini membengkak hingga 5 sampai 7 menit lebih lama dibanding saat Stasiun Karet masih beroperasi.

Sementara itu, Christine (27) mengkritik akses jalan setapak di pinggir kali yang berukuran sempit dan dinilai kurang aman saat malam hari.

Catatan lain yang disuarakan pengguna adalah posisi Stasiun BNI City yang dinilai kurang strategis untuk mobilitas pekerja harian jika dibandingkan dengan Stasiun Sudirman maupun Stasiun Karet.

“Kalau yang mau ke Dukuh Atas itu biasanya lebih dekat kalau di Stasiun Sudirman. Terus kalau ke daerah Karet ya lebih dekat di Stasiun Karet, ini di tengah-tengah aja,” jelas Kirana.

Arifin turut menimpali bahwa integrasi ke moda transportasi lanjutan di BNI City masih kalah praktis dari Stasiun Karet.

Menghadapi masa transisi ini, para pengguna KRL berharap PT KAI Commuter dapat segera melakukan evaluasi fasilitas teknis.

“Jangan sampai jadi kemunduran aja. Soalnya enak sebenernya gedungnya bagus, modern. Semoga ada perbaikan lah, biasanya kan keluhan anker didengarkan ya sama KAI, minimal eskalator lah,” pungkas Alfa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *