Imbas Kabut Asap Karhutla dan ISPA Meningkat, Siswa di Mahakam Ulu Belajar dari Rumah

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

ABNnews – Imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), seluruh siswa di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, dialihkan untuk belajar dari rumah selama sepekan.

Kebijakan ini diambil Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu demi memitigasi risiko kesehatan menyusul memburuknya kualitas udara di wilayah tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mahakam Ulu, Agus Darmawan, mengonfirmasi pihaknya telah merekomendasikan penghentian sementara pembelajaran tatap muka untuk melindungi siswa dari paparan racun asap.

“Peningkatan kasus penderita ISPA juga mulai ditemukan di beberapa puskesmas. Karena itu, BPBD merekomendasikan agar sekolah segera diliburkan untuk memitigasi bahaya kabut asap agar anak-anak terhindar dari penyakit,” ujar Agus dikutip kompascom, Minggu (30/8/2026) pagi.

Agus menyebutkan bahwa kondisi kabut asap di Mahakam Ulu relatif serupa dengan Kabupaten Kutai Barat. Namun, lantaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mahakam Ulu belum memiliki alat pengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), data dari wilayah tetangga terdekat dijadikan sebagai pijakan acuan.

Selain dari area sekitar, kabut asap yang mengepung Mahakam Ulu diduga kuat merupakan asap kiriman dari Provinsi Kalimantan Tengah.

Tingkat pencemaran udara di kawasan Barat Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, memang telah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPU Net Kementerian Lingkungan Hidup pada Minggu (30/8/2026) pukul 07.00 WITA, skor ISPU di wilayah tersebut sempat menyentuh angka 376 atau masuk dalam kategori Berbahaya, sebelum kemudian melandai ke angka 346. Parameter pencemaran paling kritis tercatat berasal dari partikel debu halus PM2,5 sebesar 376 dan PM10 sebesar 350.

Menindaklanjuti rekomendasi dari BPBD, Pemkab Mahakam Ulu resmi mengalihkan seluruh kegiatan belajar mengajar dari sekolah ke rumah bagi siswa jenjang PAUD, SD, hingga SMP.

Instruksi ini tertuang dalam Surat Edaran tentang Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran pada Masa Kekeringan dan Kebakaran Hutan serta Lahan yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mahakam Ulu, Samson Batang, pada 28 Agustus 2026.

Skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) ini berlaku mulai 29 Agustus hingga 5 September 2026, dan para siswa dijadwalkan kembali belajar di kelas pada Senin (7/9/2026).

“Masa pelaksanaan PJJ ini dapat diperpanjang menyesuaikan evaluasi perkembangan kondisi kualitas udara dan kesehatan warga sekolah,” tulis Samson dalam surat edaran resmi tersebut.

Selama masa BDR, para guru diwajibkan menyusun materi serta tugas pembelajaran terstruktur untuk dikerjakan siswa di rumah. Pihak sekolah juga meminta orang tua atau wali murid agar mendampingi anak selama proses belajar sekaligus membatasi aktivitas anak di luar rumah.

Kendati para siswa belajar dari rumah, guru dan tenaga kependidikan tetap diwajibkan hadir ke sekolah. Kehadiran mereka diperuntukkan untuk menyiapkan bahan ajar, memantau skema BDR, serta menyelesaikan administrasi sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker.

Disdikbud Mahakam Ulu turut mengimbau para murid yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan untuk selalu mengenakan masker.

Apabila muncul gejala sesak napas, siswa disarankan segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Pihak sekolah pun diinstruksikan berkoordinasi aktif dengan puskesmas untuk pengadaan masker, suplemen kesehatan, hingga pembentukan posko kesehatan darurat jika diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *