banner 728x250

Dapat Mandat Danantara, KAI dan INKA Resmi Merger Tahun Ini!

Ilustrasi. Foto dok PT KAI

ABNnews – Rencana penggabungan dua perusahaan pelat merah di sektor perkeretaapian, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA, akhirnya menemui titik terang.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memastikan proses merger kedua raksasa BUMN ini akan rampung sepenuhnya pada tahun 2026 ini usai mendapatkan mandat langsung dari Danantara.

Bobby mengungkapkan, langkah korporasi raksasa ini merupakan tindak lanjut dari arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Kebijakan tersebut diambil sejalan dengan gerilya pemerintah dalam merampingkan jumlah BUMN demi mengejar efisiensi dan efektivitas operasional.

“Oh iya itu arahan Danantara. Iya, pokoknya (rampung) tahun ini,” ungkap Bobby saat ditemui awak media usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi VI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Mengenai format penggabungannya sendiri, Bobby membeberkan bahwa KAI akan memegang kendali penuh sebagai perusahaan induk (holding).

Sementara itu, PT INKA yang berbasis di Madiun akan melebur ke dalam ekosistem tersebut sebagai anak usaha.

“Holding, kita holding. INKA jadi subholding,” cetus Bobby singkat.

Rencana integrasi maut ini langsung mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari Senayan. Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, menyatakan setuju dengan langkah integrasi tersebut dan bahkan membocorkan bahwa dokumen hitam di atas putih terkait akuisisi ini akan segera diteken menjelang akhir tahun.

“Saya secara pribadi dan fraksi juga mungkin setuju, di sini ada surat dari BP BUMN, di mana ada rencana integrasi KAI sama INKA, ini sangat bagus. Dan rencananya akan ada tanda tangan di November, tanda tangan akuisisi INKA di November,” tutur Rizal.

Rizal menilai, bersatunya KAI dan INKA di bawah payung Danantara harus menjadi momentum sakral untuk memangkas ketergantungan kronis industri transportasi Indonesia terhadap impor armada.

Ia menyayangkan jika selama ini KAI masih gemar mendatangkan kereta dari luar negeri, padahal ada kapasitas lokal milik INKA yang bisa dioptimalkan.

“Karena kalau kita lihat di sini memang masih banyak terus terang kereta-kereta yang diimpor, sayang sekali pemanfaatan INKA ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memproduksi yang dibutuhkan oleh KAI. Sayang sekali kalau harus terus impor dari Jepang atau China. Ini yang saya pikir Danantara mau, di mana memanfaatkan INKA sebaik-baiknya,” cecar Rizal.

Lebih lanjut, politikus Senayan ini berharap agar pasca-merger nanti, kedua perusahaan bisa saling menopang satu sama lain. KAI diminta bertindak laku sebagai penopang utama andai INKA terbentur masalah finansial atau teknis dalam proses manufaktur di pabrik.

Bahkan, Rizal menyarankan manajemen KAI untuk berani menahan diri dan mengerem proyek-proyek investasi yang dirasa belum mendesak. Alokasi dana tersebut dinilai lebih bermanfaat jika dialihkan demi mendukung penguatan modal produksi di INKA.

“(INKA) kalau ada masalah minta dukungan ke KAI. Investasi-investasi KAI yang belum perlu mendingan buat dukung INKA. Jangan kita terlalu banyak impor lagi,” tegas Rizal mengakhiri interupsinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *