ABNnews – Rektor Universitas Indonesia (UI) sekaligus Anggota Amirul Hajj 1447 H/2026 M, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, menyoroti perputaran dana raksasa dalam penyelenggaraan haji dan umrah.
Heri menegaskan bahwa ke depan, Indonesia tidak boleh lagi sekadar puas dengan peran konvensional sebagai event organizer (EO) yang hanya mengurusi operasional keberangkatan dan kepulangan jemaah.
Menurutnya, kesuksesan operasional tahun ini harus dijadikan batu loncatan besar untuk menata ekosistem bisnis dan tata niaga yang agresif.
Tujuannya agar perputaran dana bernilai fantastis tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang kembali mengalir ke Tanah Air.
Heri sendiri mengapresiasi tinggi debut perdana Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia pada musim haji 2026 ini yang dinilai sukses menandai lompatan kualitas pelayanan.
Di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah selaku Amirul Hajj, seluruh elemen petugas menunjukkan etos kerja yang responsif, simpatik, dan solutif di lapangan.
“Evaluasi kami menunjukkan bahwa berbagai parameter kinerja yang krusial mulai dari layanan kesehatan, logistik, transportasi, hingga pemondokan berjalan dengan sangat baik dan mengalami peningkatan kualitas yang jauh lebih terukur dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Heri dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).
Penyederhanaan tata kelola layanan di Arab Saudi melalui sistem syarikah, penguatan pemeriksaan kesehatan berbasis istitha’ah sejak di dalam negeri, hingga ketepatan jadwal akomodasi dinilai sukses membuat jemaah merasakan pelayanan yang jauh lebih tertata. Namun, capaian ini menurutnya menjadi momentum tepat untuk mengejar visi yang jauh lebih besar.
Secara hitungan bisnis, Heri memaparkan bahwa sektor haji dan umrah menjanjikan keuntungan yang sangat pasti bagi perekonomian nasional. Hal ini didorong oleh modal berupa captive market Indonesia yang luar biasa solid dan jarang dimiliki oleh sektor bisnis lainnya di dunia.
“Indonesia memiliki captive market yang luar biasa solid: kuota haji yang pada 2026 mencapai 221 ribu jemaah, ditambah lebih dari dua juta jemaah umrah setiap tahunnya. Permintaan sebesar ini berulang, terukur, dan loyal,” tutur Heri merinci potensi pasar yang ada.
Untuk menangkap peluang emas tersebut, Heri mendesak pemerintah agar segera melakukan investasi strategis dan masif di sektor-sektor penunjang dari hulu hingga hilir secara mandiri langsung di Arab Saudi.
Investasi tersebut meliputi penguasaan fasilitas kesehatan, jaringan transportasi terintegrasi, sektor perhotelan, hingga penyediaan dapur makanan segar (fresh meal) maupun makanan siap saji (Ready to Eat/RTE) beserta seluruh ekosistem logistiknya.
Langkah penguasaan rantai pasok ini dinilai sangat krusial. Selain berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, kepemilikan aset ekosistem ini memberikan Indonesia kendali penuh (control) untuk melakukan penyelesaian masalah (problem solving) secara cepat dan tepat di lapangan tanpa harus bergantung pasif pada penyedia jasa eksternal.
Sebagai pimpinan institusi akademik, Heri meyakini transformasi besar ini menuntut perencanaan matang yang berbasis pada data, riset ilmiah, serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang andal sebuah ruang kontribusi nyata yang siap diisi oleh jajaran perguruan tinggi.
“Sukses debut Kemenhaj 2026 telah membuktikan bahwa kita mampu melayani dengan paripurna. Kini saatnya keberhasilan itu kita jadikan fondasi bagi ekosistem haji yang lebih mandiri dan berdampak nyata bagi bangsa,” pungkasnya.













