ABNnews – Pemerintah terus pasang kuda-kuda memperkuat sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, hingga sektor jasa keuangan.
Langkah ini digeber demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap inklusif dan berkelanjutan di tengah gempuran ketidakpastian global yang masih menghantui.
Pengembangan ekonomi di tingkat regional kini didapuk menjadi kunci keramat dalam memperkuat daya tahan ekonomi nasional, sekaligus memicu pemerataan pertumbuhan antarwilayah.
“Kita memiliki target besar menuju pertumbuhan ekonomi 8%. Untuk mencapai target tersebut, daerah harus terus didorong karena pertumbuhan nasional pada dasarnya merupakan agregasi dari pertumbuhan daerah,” tegas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Airlangga memaparkan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam posisi solid, baik dari rapor korporasi maupun makroekonomi secara umum.
Ia menjabarkan bahwa inflasi nasional saat ini berhasil dijinakkan pada level 2,4% dengan depresiasi rupiah di kisaran 2,6%, jauh lebih kokoh dibanding periode tekanan ekonomi sebelumnya.
Guna menopang pilar ekonomi daerah, Airlangga menyebut pemerintah getol memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tak main-main, dana jumbo Kredit Usaha Rakyat (KUR) dialokasikan hingga menyentuh angka Rp 300 triliun.
Suntikan modal jumbo ini diklaim ampuh mendongkrak kapasitas UMKM hingga sekitar 34%, serta menyumbang kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di angka 18% sampai 27%. Adapun hingga April 2026, realisasi penyaluran KUR dilaporkan sudah menembus Rp 111 triliun lewat berbagai skema pembiayaan.
Selain UMKM, sektor digital turut menjadi ladang emas yang digarap bersama Pemda. Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan telah bertengger di angka USD 150 militar dan punya potensi meroket hingga USD 400 miliar pada tahun 2030 mendatang.
Bahkan, jika integrasi ekonomi digital di tingkat ASEAN berjalan mulus, potensi cuan kawasan bisa menembus USD 2 triliun, di mana Indonesia berpeluang mencaplok kue terbesar senilai USD 600 miliar.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga membeberkan cetak biru pengembangan industri semikonduktor dalam negeri. Pemerintah pasang target ambisius untuk melatih 15 ribu talenta semikonduktor dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
Proyek ini rupanya kebanjiran peminat. Pada tahap awal, tercatat ada 4.500 orang yang mendaftar, meski baru seribu peserta yang berhasil lolos untuk mengikuti pelatihan.
Bukan cuma fokus pada urusan Sumber Daya Manusia (SDM), pemerintah juga mulai memetakan daerah-daerah potensial penyuplai bahan baku. Wilayah yang kaya akan kandungan silika bakal didorong penuh untuk melakukan hilirisasi. Langkah ini diambil demi memperkuat rantai pasok dan ekosistem industri semikonduktor di tanah air.













