ABNnews – Kinerja ekonomi nasional mengawali tahun 2026 dengan rapor biru. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Indonesia melesat di angka 5,61 persen (year-on-year) pada Triwulan I-2026.
Capaian moncer ini menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi tanah air tetap kokoh di tengah badai ketidakpastian global.
Di tengah situasi tersebut, sektor pariwisata maju sebagai salah satu kuda hitam andalan dalam mendongkrak pundi-pundi devisa negara. Sepanjang tahun 2025 lalu, jumlah pelancong mancanegara yang berlibur ke RI menembus 15,39 juta kunjungan, disusul pergerakan wisatawan nusantara yang menyentuh angka fantastis 1,2 miliar perjalanan.
Tren positif ini berlanjut ke awal tahun 2026. Tercatat, sudah ada 3,44 juta kunjungan wisman dan 319 juta perjalanan wisnus yang mengalir ke berbagai destinasi eksotis Indonesia.
“Nah untuk target pertumbuhan ekonomi 8 persen, target kontribusi daripada sektor pariwisata adalah 5 persen terhadap GDP nasional dengan perolehan devisa diharapkan USD 39,4 miliar. Kalau angkanya ini setara dengan ekspor utama Indonesia yaitu batubara dan sawit. Maka ini adalah domestic engine of growth yang harus kita pacu,” tegas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Rakornas Pariwisata 2026, Rabu (20/5/2026).
Airlangga terang-terangan melirik potensi besar di kawasan ASEAN. Berkaca dari Thailand dan Malaysia yang sukses menjaring lebih dari 35 juta turis asing, Indonesia dituntut untuk berbenah, mulai dari memperkuat daya saing, konektivitas, hingga melonggarkan akses masuk.
Melalui kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) yang sedang diperluas, pemerintah membidik tambahan minimal 2,5 juta kunjungan wisman. Pada tahap awal, karpet merah BVK akan digelar khusus untuk turis asal Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Selandia Baru, Kazakhstan, Belarus, dan Makau.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyasar para permanent resident di Singapura untuk didorong berlibur ke koridor Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) sebagai pintu gerbang wisata regional.
Guna memuluskan cetak biru pariwisata berkelanjutan ini, pemerintah tidak hanya mengandalkan kantong APBN reguler. Negara kini mendorong pembentukan Indonesia Quality Tourism Fund sebagai skema pendanaan alternatif.
Infrastruktur penunjang pun digarap gila-gilaan. Pemerintah telah menetapkan 11 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata demi mempermudah investasi masuk, sekaligus menyiapkan 37 bandara internasional baru di berbagai titik guna memperkuat konektivitas udara.
Selain infrastruktur fisik, efisiensi birokrasi ikut dirombak. Pemerintah tengah mempercepat penerapan single platform perizinan untuk penyelenggaraan event internasional agar prosesnya tidak lagi berbelit-belit. Strategi promosi kreatif, salah satunya lewat pariwisata berbasis film destinasi (film-induced tourism), juga mulai digenjot.
“Saya berharap dengan kolaborasi seluruh pihak kita bisa sama-sama meningkatkan standar keamanan destinasi, memperkuat konektivitas dan aktivitas destinasi wisata, integrasi perencanaan dari tujuan pariwisata, promosi dan branding, hingga terkait dengan pelatihan dan sertifikasi SDM,” pungkas Airlangga.













