ABNnews – Industri semikonduktor global saat ini tengah meroket tajam menyusul tingginya kecanduan dunia terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital.
Berdasarkan data teranyar McKinsey (2026), nilai industri ini diperkirakan hampir menyentuh angka USD 800 miar dan diproyeksikan bakal melesat melampaui USD 1,5 triliun pada tahun 2030 mendatang.
Melihat kue bisnis yang sangat menggiurkan ini, Indonesia dinilai punya modal kuat untuk ambil bagian dan menjadi pemain kunci di sektor strategis ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan, Indonesia dibekali keunggulan demografi berupa populasi lebih dari 285 juta jiwa dengan 190 juta di antaranya merupakan warga usia produktif.
Tak hanya itu, nilai ekonomi digital dalam negeri saat ini bertengger di angka USD 150 miar dan digadang-gadang bakal tembus USD 400 miar pada 2030.
“Membangun industri semikonduktor yang kompetitif secara global membutuhkan komitmen jangka panjang dalam mengembangkan talenta teknik, memperkuat R&D, dan memperdalam integrasi ke rantai pasokan global,” ujar Menko Airlangga dalam acara Pelatihan Semikonduktor Bersama Arm untuk Talenta Indonesia di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Airlangga menegaskan, selain memperkuat desain chip (fabless) yang luar biasa, Indonesia wajib mulai menata ekosistem manufaktur hilir sendiri dengan memanfaatkan melimpahnya cadangan mineral strategis dan pasir silika di dalam negeri.
“Indonesia perlu membangun ekosistem semikonduktor berbasis silika termasuk membangun ekosistem foundry semikonduktor berbasis silika sebagai bagian dari strategi industri nasional jangka panjang,” imbuhnya.
Pengembangan fasilitas pabrik (foundry) berbasis silika ini nantinya bakal dikawinkan dengan fasilitas perakitan, pengujian, dan pengemasan alias Assembly, Testing, and Packaging (ATP).
Strategi ini dipasang agar Indonesia bisa naik kelas dan melangkah lebih jauh dari sekadar pasar konsumen atau tujuan perakitan, melainkan bertransformasi menjadi pusat manufaktur semikonduktor terintegrasi di Asia Tenggara.
Apalagi, pasar domestik Indonesia terbukti sangat seksi. Di sektor otomotif saja, kapasitas produksi nasional mencapai 2 juta kendaraan per tahun dengan ekspor 600 ribu unit ke 70 negara.
Faktanya, satu unit mobil membutuhkan sedikitnya 150 semikonduktor untuk sistem kendali. Belum lagi urusan penetrasi smartphone yang menembus 75% populasi, ledakan pusat data (data center), serta ekosistem Internet of Things (IoT).
Guna melancarkan megaproyek ini, pemerintah terus memperkuat infrastruktur lewat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, dan zona perdagangan bebas. KEK Banten, Nongsa Digital Park, dan Singhasari bakal diplot untuk menyokong riset fabless.
Sementara Zona Perdagangan Bebas Batam, Kendal, dan Subang ditargetkan menjadi episentrum manufaktur elektroniknya.
Namun, urusan Sumber Daya Manusia (SDM) tetap jadi kunci utama. Untuk itu, pemerintah resmi menggandeng Danantara dan raksasa arsitektur chip global, Arm, untuk menggembleng 1.000 talenta semikonduktor angkatan pertama sebagai langkah awal. Target besarnya: melahirkan 15.000 engineer dalam waktu 3 tahun ke depan.
“Kolaborasi antara Danantara dan Arm merupakan langkah strategis bagi Indonesia. Dengan 1.000 talenta yang mengikuti kursus ini hari ini, kita melihat masa depan Indonesia cerah. Dan kami yakin bahwa mereka yang dilatih oleh Arm akan menjadi pemimpin Indonesia berikutnya di industri semikonduktor,” puji Airlangga.
Dalam sesi doorstop usai acara, Airlangga menambahkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan sebesar USD 400 miar pada 2030 berpotensi melonjak drastis hingga menyentuh angka USD 600 miar. Syaratnya, lewat realisasi rencana penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang digolkan tahun ini.
“Baru saja dilakukan pembukaan program pelatihan Danantara dengan Arm sebagai langkah percepatan industri semikonduktor dan elektronik yang terintegrasi dalam ekosistem global dengan teknologi Arm,” jelas Airlangga.
Langkah taktis ini pun diharapkan menjadi fondasi kolaborasi jangka panjang yang kokoh antara Pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, serta ekosistem inovasi nasional.













