banner 728x250

Ketuban Pecah di Jalan, Perjuangan Ibu Hamil di Polman Berakhir Memilukan Akibat Jalan Rusak Parah

Ibu hamil ditandu di Desa Ratte, Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Istimewa

ABNnews – Potret buram akses kesehatan akibat ketimpangan infrastruktur kembali terjadi di pedalaman Sulawesi Barat.

Seorang ibu hamil bernama Masni (27), warga Desa Ratte, Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar (Polman), terpaksa harus ditandu beramai-ramai oleh warga sejauh 9 kilometer demi bisa melahirkan di rumah sakit.

Nahas, meski berhasil dievakuasi setelah bertaruh nyawa menembus rute terjal, bayi di dalam kandungan Masni dinyatakan meninggal dunia saat tiba di fasilitas medis.

Kisah memilukan ini terjadi pada Sabtu (16/5) lalu. Rekaman warga memperlihatkan ketegangan saat Masni diangkut menggunakan tandu darurat dari sebilah bambu dan kain, melintasi kawasan hutan lebat serta anak sungai yang dipenuhi bebatuan licin.

Kepala Desa Ratte, Habri, mengonfirmasi bahwa warganya tersebut sempat mendapat penanganan medis awal di Poskesdes setempat oleh bidan desa selama beberapa malam.

Pihak medis pun sebenarnya sudah menyarankan agar Masni segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih memadai, namun pihak keluarga sempat ragu.

Ketika kondisi Masni kian mendesak, warga akhirnya bergotong-royong menandu sang ibu hamil melewati jalur alternatif selama kurang lebih empat jam perjalanan. Guncangan ekstrem selama evakuasi diduga membuat ketuban korban pecah di tengah jalan.

“Sempat sampai di rumah sakit pasien dioperasi (sesar). Anaknya tidak tertolong,” ungkap Habri dengan nada pilu saat dimintai konfirmasi oleh wartawan, Rabu (20/5/2026).

Habri membeberkan, warga terpaksa memilih jalur pintas sepanjang 9 kilometer menembus hutan karena akses jalan utama sepanjang 20 kilometer di kawasan Piriang kondisinya hancur lebat.

Memasuki musim penghujan seperti sekarang, jalan utama tersebut berubah total menjadi kubangan lumpur yang tidak bisa ditembus oleh motor, apalagi mobil.

“Saat ini lagi parah-parahnya karena musim hujan, lebih jauh dan tidak bisa ditembus motor apalagi mobil,” cetus Habri.

Ia menambahkan, janji perbaikan jalan alternatif dari Pemprov Sulbar selama ini selalu mentok karena status lahan yang masuk dalam kawasan hutan.

Tragedi kemanusiaan di Syam ini nyatanya bukan barang baru. Salah satu tokoh pemuda setempat, Aco Yaqub, mengungkapkan kekesalannya karena aksi menandu orang sakit akibat jalan rusak bak sudah menjadi agenda rutin yang terulang terus-menerus.

Warga merasa dianaktirikan dan menuntut pemerintah pusat maupun daerah untuk melek terhadap penderitaan yang dialami masyarakat Desa Ratte.

“Sudah puluhan kali warga harus menandu pasien di jalur ini. Kami berharap pemerintah serius memberikan perhatian, memperbaiki jalan kami sebagaimana di daerah lain, sehingga kesulitan yang dirasakan warga akibat jalan rusak dapat teratasi,” pungkas Aco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *