banner 728x250

13 Tahun Vakum, RI-Kazakhstan Akhirnya ‘Rujuk’ demi Kuasai Pasar Eurasia!

Foto dok Kemenko Perekonomian

ABNnews – Pemerintah Indonesia dan Kazakhstan resmi mengaktifkan kembali “mesin” kerja sama ekonomi mereka yang sempat mati suri selama 13 tahun. Pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua antara kedua negara sukses digelar di Astana, Kazakhstan, Senin (11/5/2026).

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin langsung delegasi RI untuk bertemu dengan Deputi Perdana Menteri Kazakhstan, Serik Zhumangarin. Pertemuan ini menjadi momentum “rujuk” yang strategis di tengah rencana besar penguasaan pasar di kawasan Eurasia.

Sidang Komisi Bersama (SKB) ini menjadi sangat bersejarah karena terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2013 silam. Pengaktifan kembali forum ini dilakukan tepat sebelum implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) yang telah diteken Desember 2025 lalu.

“Indonesia merupakan mitra kunci bagi Kazakhstan dalam mengembangkan kerja sama ekonomi dan politik di Asia Tenggara,” ujar Deputi PM Zhumangarin menyambut hangat delegasi Indonesia.

Menko Airlangga menegaskan bahwa Kazakhstan adalah pemain kunci di Asia Tengah. Dengan PDB mencapai USD 333,7 miliar dan pertumbuhan ekonomi 6,5% di tahun 2025, negara ini menjadi pintu masuk (gateway) yang sangat menggiurkan bagi produk-produk Indonesia untuk menembus pasar Eurasia yang lebih luas.

“Indonesia dan Kazakhstan dapat bekerja sama dan bersama-sama memperluas pengaruh di kawasan,” tegas Airlangga.

Tak cuma urusan perdagangan barang, kedua negara kini mulai melirik teknologi masa depan. Menariknya, Presiden Kazakhstan telah menetapkan tahun 2026 sebagai “Tahun Digitalisasi dan Artificial Intelligence”. Kazakhstan bahkan sudah memiliki kementerian khusus yang menangani pengembangan AI.

Wakil Menteri Kecerdasan Artifisial Kazakhstan, Bakhtiyar Mukhametkaliyev, secara terbuka mengundang Indonesia untuk menggarap proyek bersama (joint project) hingga pertukaran informasi di bidang ekonomi digital.

Konektivitas antarmasyarakat juga dilaporkan makin lengket. Duta Besar RI untuk Kazakhstan, Fadjroel Rachman, membeberkan data jumlah wisatawan asal Kazakhstan yang berkunjung ke Indonesia melonjak drastis, dari 8.198 kunjungan di 2023 menjadi 24.424 kunjungan pada 2025.

Dalam sidang tersebut, Indonesia juga habis-habisan mendorong peningkatan akses pasar untuk produk ekspor nasional. Mulai dari palm oil, peralatan listrik, alas kaki, produk perikanan, buah tropis, hingga kopi dan makanan olahan siap “menyerbu” pasar Kazakhstan dengan lebih kompetitif.

Untuk mendukung hal ini, Airlangga mendorong segera dibentuknya Indonesia–EAEU Business Council agar para pelaku usaha bisa langsung tancap gas memanfaatkan FTA yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *