banner 728x250

Makan Gratis Bikin Pesawat Terbang? Intip Proyek Raksasa Pertamina Ubah Limbah Jadi Energi

Foto dok Pertamina

ABNnews – Siapa sangka minyak goreng bekas atau jelantah bisa punya nilai setinggi langit? Lewat kolaborasi teranyar antara PT Pertamina (Persero) dan Badan Gizi Nasional (BGN), limbah dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal disulap jadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan alias Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) maut ini dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Kepala BGN Dadan Hindayana di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Kerja sama ini jadi bukti nyata bagaimana urusan perut (pangan) dan mesin (energi) bisa bersinergi dalam satu ekosistem canggih.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan, Program MBG bukan main-main skalanya. Program ini melayani sekitar 61,99 juta penerima manfaat. Dengan puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, potensi minyak jelantah yang dihasilkan pun sangat masif.

“Program ini bukan hanya soal makan gratis, tapi investasi masa depan bangsa. Kita membangun generasi unggul sekaligus memperkuat ekonomi rakyat,” ujar Dadan.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut kerja sama ini selaras dengan Misi ke-2 Asta Cita untuk membangun kemandirian pangan dan energi secara simultan. Minyak goreng bekas yang selama ini dianggap sampah dan merusak lingkungan, kini punya peran strategis.

“Kita ubah perspektif itu. Kita jadikan limbah sebagai sumber daya, masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy dan di sinilah peran Pertamina menjadi penting,” tegas Simon.

Nantinya, Pertamina Patra Niaga bakal mengerahkan mesin pengumpulan canggih bernama UCollect. Minyak yang terkumpul akan diolah menjadi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), hingga biogasoline.

Mengapa Pertamina butuh banget minyak jelantah? Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menjelaskan, minyak jelantah adalah bahan baku paling efisien untuk menekan emisi karbon sesuai standar dekarbonisasi global.

Sesuai amanat Pemerintah melalui Kepmen ESDM No. 113/2026, Pertamina menargetkan pencampuran bioavtur (SAF) mulai dari 1% hingga 5% pada tahun 2030 mendatang.

“Kolaborasi ini memperkuat portofolio bisnis rendah karbon Pertamina melalui pemanfaatan limbah domestik sebagai sumber energi masa depan,” pungkas Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *